Disleksia atau reading disabilities adalah kelainan neurologis yang menyebabkan kemampuan membaca anak di bawah kemampuan yang semestinya, jika mempertimbangkan tingkat intelegensi, usia, dan pendidikannya.
Disleksia adalah gangguan belajar yang dialami anak dalam hal membaca. Anak dengan disleksia melihat tulisan seolah campur aduk, sehingga sulit dibaca dan sulit diingat. Mungkin jika anda melihat tulisan dengan huruf asli dari Bahasa Jawa anda akan pusing tujuh keliling, apalagi saat anda diminta untuk membeca. Demikian pula dengan anak yang mengalami disleksia, ia akan merasa sulit membaca padahal itu tulisan dalam Bahasa Indonesia (dengan alfabet yang sempurna). Seperti contoh kalimat ini, “ibu saya seorang ibu rumah tangga”, maka anak akan membacanya “iu say eora iu rah ngga” itu adalah salah satu contohnya.
Demikian lah sekiranya keadaan anak yang menderita gangguan belajar spesifik disleksia. Mereka terjebak dalam dunia yang penuh dengan tulisan-tulisan yang tidak mereka mengerti. Istilah disleksia mengacu pada gangguan membaca yang dimiliki oleh seseorang, seperti kesulitan membaca, memahami bacaan, kesulitan membedakan huruf yang mirip seperti b, d, q, p, v, u, n, dan lainnya. Berbeda dengan slow learner, anak yang didiagnosis disleksia harus memiliki IQ rata-rata atau di atas rata-rata.
Jika anak Anda dalam tahap belum bisa membedakan mana huruf-huruf yang mirip seperti b dan d, maka cara pengajaran yang perlu dilakukan adalah mempelajari hurufnya satu persatu. Misalnya fokuskan pengajaran kali ini pada huruf b. Tulislah huruf b dalam ukuran yang besar kemudian mintalah anak untuk mengucapkan sembari tangannya mengikuti alur huruf b atau membuat kode tertentu oleh tangan. Latihlah dan perkuatlah terus menerus sampai ia bisa menguasainya, setelah itu mulailah beranjak ke huruf d.
Dalam gangguan belajar memiliki katagori atau jenis tertentu. Seperti:
·Gangguan membaca (disleksia),
·Gangguan menuliskan ekspresi (disgrafia), dan
·Gangguan matematik (diskalkulia).
Dengan demikian, seorang anak dengan gangguan belajar bisa mengalami kesulitan memahami dan mempelajari matematika yang signifikan, tetapi tidak memiliki kesulitan untuk membaca, menulis, dan melakukan dengan baik pada subjek yang lain. Diseleksia adalah gangguan belajar yang paling dikenal. Gangguan belajar tidak termasuk masalah belajar yang disebabkan terutama masalah penglihatan, pendengaran, koordinasi, atau gangguan emosional.
Pada umumnya gangguan belajar sering disalah artikan oleh beberapa orang anak. Mereka menganggap orang seorang anak yang sering mendapatkan nilai buruk adalah anak bodoh atau pemalas. Padahal anak mengalami gangguan dalam belajar. Gangguan belajar mempengaruhi kemampuan untuk mendapatkan sesuatu, menyimpan informasi, dan kesulitan dalam mendapatkan keahlian khusus. Kejadian tersebut akibat berkurangnya perhatian, kurangnya daya ingat.
Ada yang menganggap gangguan belajar sama dengan keterlambatan mental, namun gangguan belajar berbeda dengan keterlambatan mental. Gangguan belajar hanya mempengaruhi fungsi tertentu. Sedangkan pada anak dengan keterlambatan mental, kesulitan mempengaruhi fungsi kognitif secara luas.
Gangguan belajar sesungguhnya dapat di ketahui sejak duduk dibangku sekolah dasar. Orang tua lah yang semestinya mengetahui tanda-tanda anak mengalami gangguan belajar, karena pada usia anak duduk di bangku sekolah dasar anak sangat membutuhkan dampingan dari orang tua.
Gangguan RETT dikenalkan oleh Andreas Rett (1965). Sindrom Rett adalah penyakit degeneratif, ketidak mampuan yang semakin hari semakin parah (progresif). Gangguan REET lebih cenderung menyerang anak perempuan, 22 anak perempuan yang mengalami perkembangan normal selama sekurangnya enam bulan, diikuti oleh pemburukan perkembangan yang menakutkan. Prevalensi kejadian antara 6–7 per 100.000 anak perempuan.
Gangguan REET dapat dilihat sejak usia menginjak 6 bulan hingga 18 bulan. Yang dapat terlihat adalah pertumbuhan kepala yang lambat dan identik dengan kehilangan kemampuan menggunakan gerak tangan yang sempurna.
Adapun kriteria diagnostik sindrom RETT menurut DSM-IV adalah sebagai berikut:
A. Awal:
Perkembangan pranatal dan perinatal yang tampaknya normal.
Perkembangan psikomotor yang tampaknya normal selama lima bulan pertama setelah lahir.
Lingkaran kepala yang normal saat lahir.
B. Setelah periode perkembangan normal:
Perlambatan pertumbuhan kepala antara usia 5 dan 48 bulan.
Hilangnya keterampilan tangan bertujuan yang sebelumnya telah dicapai antara usia 5 dan 30 bulan dengan diikuti perkembangan gerakan tangan stereotipik (misalnya, memuntirkan tangan atau mencuci tangan).
Hilangnya keterlibatan sosial dalam awal perjalanan (walaupun seringkali interaksi sosial tumbuh kemudian).
Terlihatnya gaya berjalan atau gerakan batang tubuh yang terkoordinasi secara buruk.
Gangguan parah pada perkembangan bahasa ekspresif dan reseptif dengan retardasi psikomotor yang parah.
Dalam penentuan gangguan harus dilihat dari kriteria tertentu. Adapun kriteria diagnostik gangguan Asperger menurut DSM-IV adalah sebagai berikut:
A.Gangguan kualitatif dalam interaksi sosial, seperti ditunjukkan oleh sekurangnya dua dari berikut:
1)Gangguan jelas dalam penggunaan perilaku non verbal multipel seperti tatapan mata, ekspresi wajah, postur tubuh, dan gerak-gerik untuk mengatur interaksi sosial.
2)Gagal untuk mengembangkan hubungan dengan teman sebaya yang sesuai menurut tingkan perkembangan.
3)Gangguan jelas dalam ekspresi kesenangan dalam kegembiraan orang lain.
4)Tidak ada timbal balik sosial atau emosional.
B.Gangguan kualitatif dalam interaksi sosial, seperti ditunjukkan oleh sekurangnya dua dari berikut:
1)Gangguan jelas dalam penggunaan perilaku non verbal multipel seperti tatapan mata, ekspresi wajah, postur tubuh, dan gerak-gerik untuk mengatur interaksi sosial.
2)Gagal untuk mengembangkan hubungan dengan teman sebaya yang sesuai menurut tingkan perkembangan.
3)Gangguan jelas dalam ekspresi kesenangan dalam kegembiraan orang lain.
4)Tidak ada timbal balik sosial atau emosional.
C.Gangguan kualitatif dalam interaksi sosial, seperti ditunjukkan oleh sekurangnya dua dari berikut:
1)Gangguan jelas dalam penggunaan perilaku non verbal multipel seperti tatapan mata, ekspresi wajah, postur tubuh, dan gerak-gerik untuk mengatur interaksi sosial.
2)Gagal untuk mengembangkan hubungan dengan teman sebaya yang sesuai menurut tingkan perkembangan.
3)Gangguan jelas dalam ekspresi kesenangan dalam kegembiraan orang lain.
4)Tidak ada timbal balik sosial atau emosional.
D.Gangguan kualitatif dalam interaksi sosial, seperti ditunjukkan oleh sekurangnya dua dari berikut:
1)Gangguan jelas dalam penggunaan perilaku non verbal multipel seperti tatapan mata, ekspresi wajah, postur tubuh, dan gerak-gerik untuk mengatur interaksi sosial.
2)Gagal untuk mengembangkan hubungan dengan teman sebaya yang sesuai menurut tingkan perkembangan.
3)Gangguan jelas dalam ekspresi kesenangan dalam kegembiraan orang lain.
4)Tidak ada timbal balik sosial atau emosional.
E.Gangguan kualitatif dalam interaksi sosial, seperti ditunjukkan oleh sekurangnya dua dari berikut:
1)Gangguan jelas dalam penggunaan perilaku non verbal multipel seperti tatapan mata, ekspresi wajah, postur tubuh, dan gerak-gerik untuk mengatur interaksi sosial.
2)Gagal untuk mengembangkan hubungan dengan teman sebaya yang sesuai menurut tingkan perkembangan.
3)Gangguan jelas dalam ekspresi kesenangan dalam kegembiraan orang lain.
4)Tidak ada timbal balik sosial atau emosional.
F.Gangguan kualitatif dalam interaksi sosial, seperti ditunjukkan oleh sekurangnya dua dari berikut:
1)Gangguan jelas dalam penggunaan perilaku non verbal multipel seperti tatapan mata, ekspresi wajah, postur tubuh, dan gerak-gerik untuk mengatur interaksi sosial.
2)Gagal untuk mengembangkan hubungan dengan teman sebaya yang sesuai menurut tingkan perkembangan.
3)Gangguan jelas dalam ekspresi kesenangan dalam kegembiraan orang lain.
4)Tidak ada timbal balik sosial atau emosional.
Catatan: berbeda dengan autis infantil asperger baru dapat terdeteksi saat umur 6 – 11 tahun.
Jika di simpulkan, lebih mudah di diagnosis:
Ketidakmemadai anak dalam menjalin relasi timbal balik walaupun dengan bahasa dan perilaku nonverbal sekalipun, misalnya kontak mata yang sangat kurang, ekspresi muka yang datar, gerak-gerik yang kaku sehingga sulit untuk menjalin interaksi dengan lingkungan sekitarnya.
Ketidakmampuan untuk mengembangkan pola relasi yang adekuat dengan teman sebayanya.
Kekurangmampuan untuk menikmati kesenangan dan ketertarikan bersama dengan kelompoknya atau orang lain. Anak sulit merabarasakan apa yang dirasakan orang lain (sulit berempati).
Ketidakmemadaian dalam mengembangkan hubungan sosial dan emosional yang bersifat timbal balik.
Preokupasi dengan satu atau beberapa minat secara terbatas dan dengan cara yang sangat khas serta berlabih-lebihan (baik intensitas maupun fokus yang diberikan).
Gerakan-gerakan yang khas dan berulang-ulang, serta tidak sesuai dengan perilaku anak seusianya.
Terpaku pada suatu kegiatan yang bersifat ritual atau rutinitas.
Sindrom Asperger pertama kali dijelaskan oleh seorang pediatri (ahli kesehatan anak) dari Wina, Hans Asperger. Dalam tesis doktoral yang dipublikasikan pada 1944, Hans Asperger menggambarkan empat anak laki-laki yang tidak memiliki kemampuan berinteraksi, linguistik, dan kognitif. Ia menggunakan istilah “Psikopati Autistik” untuk menjelaskan gejala ini. Baik Leo Kanner maupun Hans Asperger menggambarkan anak-anak tersebut sebagai orang yang memiliki interaksi sosial yang sangat minim, kegagalan berkomunikasi, dan perkembangan pada minat-minat khusus. Leo Kanner menggambarkan anak-anak dengan ekspresi Autism yang lebih para, sementara Hans Asperger menjelaskan anak-anak yang lebih memiliki kecakapan.
Sindrom Asperger adalah autisme spectrum disorder, mereka menunjukkan kesulitan yang signifikan dalam interaksi sosial, bersama dan berulang-ulang pola perilaku terbatas dan kepentingan. Ini berbeda dari gangguan spektrum autisme lain dengan pelestarian relatif dari linguistic dan perkembangan kognitif. Meskipun tidak memerlukan pendiagnosisan, kejanggalan fisik dan tipikal bahasa sering dilaporkan. Sindrom Asperger ditemukan oleh dokter Austria yang bernama Hans Asperger pada tahun 1994. Ia menggambarkan anak-anak dalam praktek yang memiliki kekurangan dalam keterampilan komunikasi nonverbal, mereka menunjukkan keterbatasan empati dengan teman-teman mereka, dan secara fisik perilaku mereka kaku atau kikuk. Lima puluh tahun kemudian, Penemuan Hans Asperger itu dugunakan sebagai standar diagnosis, tapi masih banyak pertanyaan tentang aspek gangguan ini. Sebagai contoh, ada keraguan tentang apakah itu berbeda dari High Function Autism (HFA)Diagnosis Asperger telah diusulkan untuk dihilangkan, diganti dengan diagnosis gangguan spektrum autisme pada skala keparahan.
Penyebab kasus tidak diketahui, walaupun penelitian menunjukkan adanya kemungkinan sebuah faktor genetic, teknik otak pencitraan belum mengidentifikasi patologi umum yang jelas. Tidak ada pengobatan tunggal, dan efektivitas intervensi tertentu hanya didukung oleh data yang terbatas. Intervensi bertujuan meningkatkan gejala dan fungsi. Andalan manajemen adalah terapi perilaku, dengan fokus pada defisit khusus untuk menangani keterampilan komunikasi yang buruk, obsesif atau rutinitas yang berulang, dan kejanggalan fisik. Kebanyakan individu meningkatkan dari waktu ke waktu, tapi kesulitan dengan komunikasi, penyesuaian sosial dan hidup mandiri terus menjadi dewasa. Beberapa peneliti dengan orang-orang yang mengidap telah menganjurkan pergeseran sikap terhadap pandangan bahwa itu adalah perbedaan, bukan cacat yang harus diobati atau disembuhkan.