Tampilkan postingan dengan label Gangguan Eliminasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Gangguan Eliminasi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 02 Juni 2010

TERAPI ENCOPRESIS


Penderita encopresis membutuhkan penanganan yang tepat dengan melakukan terapi. Menurut Rini prinsip terapinya adalah konseling atau edukasi pada anak mengenai BAB. Mereka dapat cepat memahami penjelasan yang diberikan mengingat kemampuan kognitif anak seusia ini sudah berkembang. 

            Salah satunya adalah terapi yang bisa dilakukan kalau anak selalu menahan BAB karena merasa jijik dan tak mau masuk ke kamar mandi umum:
  • Tanamkan bahwa tidak semua kamar mandi umum/sekolah akan resik dan wangi sesuai dengan harapannya.
  • Sebelum menggunakan toilet umum/sekolah, minta ia membersihkan dengan menyiramnya terlebih dahulu.
  • Tak ada salahnya anak selalu dibekali tisu, masker, dan pengharum ruangan untuk lebih menyamankannya saat di toilet umum.
  • Yang pasti, jangan beri anak pembalut untuk mengatasi encopresis-nya. Ini justru tak mendidik.
  • Jika masalah psikologis anak tampak berat, sampai stres atau trauma misalnya, ada baiknya orang tua dan anak duduk bersama membahas permasalahan yang dihadapi. Jika perlu konsultasikan dengan psikolog.
  • Terapkan pola makan yang baik dan teratur. Usahakan banyak mengonsumsi makanan berserat, sayuran, buah-buahan, serta susu. Kurangi konsumsi makanan berlemak tinggi, junk food, dan soft drink.
  • Kepada anak yang selalu merasa nyeri saat mau BAB bisa diberikan obat-obatan untuk pengencer tinja. Namun, penggunaanya harus tetap berdasarkan rekomendasi dokter.
  • Ajarkan untuk melakukan BAB secara teratur, misalnya pagi atau malam hari.
  • Yang pasti, anak jangan disalahkan atau dicemooh kalau mengalami encopresis. Mestinya orang tua selalu mendukung dan membantu kesulitan anak.


SUMBER: www.nikita.com

AKIBAT FISIK-PSIKIS (gangguan Eliminasi)


Anak yang mengalami encopresis akan mengalami berbagai masalah emosi, seperti rendah diri, tak mau bersosialisasi atau menarik diri dari pergaulan. Ia juga akan merasa malu, takut dicemooh, atau khawatir dimarahi. Belum lagi secara fisik, anak mengalami nyeri di bagian perut karena berusaha menahan BAB.
            Akhirnya, kotoran yang harusnya dibuang tetapi tertahan di dalam perut. Dalam beberapa kasus encopresis menyebabkan infeksi pada salurah kemih karena kebiasaan menahan BAB. Ada juga yang mengalami gangguan iritasi kulit atau jamur karena kebersihan tak terjaga. Kalau sudah begitu, anak juga akan kehilangan nafsu makan sehingga rentan sakit.

PENYEBAB ENCOPRESIS


Belum diketahui secara pasti apa yang menjadi penyebab anak mengalami encopresis. Meski begitu, kalau mau dirunut ada beberapa faktor yang "mengontribusi" terjadinya encopresis yaitu:

  1. Stres
            Anak mengalami beban pikiran yang tak terselesaikan. Entah itu masalah di sekolah atau di rumah. Misalnya, masalah pelajaran yang terlalu berat atau lingkungan sekolah yang membuatnya tak nyaman. Permasalahan dengan orang tua, seperti merasa kurang diperhatikan atau kurang kasih sayang, juga dapat menjadi beban pikiran. 

  1. Kurang aktivitas fisik
            Anak yang kurang melakukan aktivitas fisik berisiko mengalami encopresis. Sebaiknya di usia sekolah, dimana anak tengah bersemangat melakukan eksplorasi, ia diberi berbagai kegiatan. Tujuannya selain untuk mengantisipasi terjadinya encopresis, juga demi mengembangkan kemampuan dan keterampilannya. 

  1. Selalu menahan BAB
            Ada juga beberapa anak yang selalu menahan BAB. Alasannya beragam. Misalnya, anak terlalu asyik melakukan suatu kegiatan sehingga enggan pergi ke toilet. Namun karena rangsangan untuk BAB begitu kuat dan tak bisa ditahan lagi, akhirnya terjadilah encopresis.
            Sebagian anak menahan BAB karena tak terbiasa menggunakan sarana umum, terutama toilet yang kurang bersih. Misalnya, kamar mandi di sekolah yang ternyata bau dan kotor yang bertolak belakang dengan toilet di rumah yang terjaga kebersihannya. Akhirnya dia memilih menahan BAB ketimbang harus memakai toilet sekolah. Saat si anak tak kuat lagi menahan, terjadilah encopresis. Syukur-syukur kalau ia berterus terang BAB di celana, karena biasanya mereka akan diam seribu basa. Baru ketahuan orang lain setelah tercium aromanya yang tak sedap. 

  1. Makanan/Minuman
            Encopresis juga bisa dipicu oleh asupan makanan yang kurang baik yang menyebabkan gangguan di saluran pencernaan. Misalnya sering menyantap makanan berlemak tinggi, berkadar gula tinggi atau junk food. Minuman yang mengandung banyak gula dan soda juga bisa mencetuskan terjadinya encopresis. 

  1. Trauma
            Contohnya, akibat sembelit atau kesulitan mengeluarkan tinja karena keras. Lama-kelamaan anak menjadi trauma karena setiap kali BAB ia merasa sakit. Untuk menghindari rasa sakit itu, ia jadi sering menahan untuk tidak BAB. 

  1. Obat-obatan
            Encopresis juga bisa terjadi karena efek obat-obatan yang bisa menyebabkan terhambatnya pengeluaran kotoran. Misalnya, obat batuk yang mengandung zat seperti codein. Encopresis terjadi karena obat tersebut tak cocok atau dipakai dalam jangka panjang.

  1. Kegagalan toilet training
            Pengajaran atau pelatihan buang air (toilet training) yang dilakukan dengan memaksa anak, cepat atau lambat akan menjadi tidak efektif. Begitu pula kalau misalnya anak yang BAB di celana lantas dimarahi orang tua.

ENCOPRESIS


Encopresis adalah gangguan eliminasi yang melibatkan berulang kali setelah buang air besar di tempat-tempat yang tidak tepat setelah usia ketika kontrol usus biasanya diharapkan. Tidak jauh berbeda dengan Enuresis, Encopresis juga termasuk pengeluaran atau pembuangan yang tidak wajar. Anak yang buang air besar sembarangan biasanya terlihat sejak usia 3 tahun dan kurang penanganan dari orang tua.

ENURESIS


 Mengompol diluar kewajaran dikenal dengan sebutan enuresis, adalah sebuah gangguan eliminasi yang melibatkan pelepasan urin ke selimut, pakaian, atau tempat yang tidak pantas lainnya. Enuresis merupakan kondisi dimana anak mengompol di malam hari selama tidur saat anak seusianya sudah mampu menahan kencing atau saat anak tersebut baru bisa menahan kencing tidak lebih dari 6 bulan berturut-turut sebelum enuresis mulai terjadi pada anak. 

            Terkadang kebiasaan mengompol pada anak yang sudah duduk di bangku sekolah kadang membuat jengkel orang tua. Tak jarang omelan terlontar dari mulut seorang ibu karena harus menjemur kasur yang basah oleh air kencing anaknya. Namun, sebelum marah sebaiknya orang tua paham apa dan mengapa ngompol itu terjadi.

GANGGUAN ELIMINASI


Gangguan Eliminasi merupakan gangguan yang sering kali muncul pada anak-anak yang gagal dalam toilet training. Gangguan eliminasi adalah gangguan pada pengeluaran dalam tubuh dan biasanya di sertai buang air (kecil atau besar) sembarangan. Namun gangguan eliminasi pada anak pada dasarnya dapat di cegah oleh para orang tua.

Banyak hal yang tidak diketahui oleh para orang tua apa yang harus dilakukan jika anak buang air sembarangan. Mereka mengenggap anak itu jorok atau tidak tau aturan. Padahal hal tersebut terjadi karena didikan ataupun arahan orang tua yang kurang baik. Sehingga anak menjadi malas atau kurang mengerti akan aturan.

Menurut Asosiasi Psikiater Amerika gangguan eliminasi dibagi menjadi dua, yaitu Enureses dan Encopreses.