Sabtu, 07 Januari 2012

ANALISIS DAN PERBANDINGAN WEBSITE PEMERINTAHAN, PERUSAHAAN, DAN PERORANGAN


          Pada tugas Psikologi dan Teknologi Internet kali ini, saya akan coba membadingkan website yang ada di Indonesia dari pemerintah, perusahaan dan perorangan. Saya akan mencoba membandingkan menurut penilaian saya pribadi, meskipun ini adalah tugas dari mata kuliah yang saya ambil.
            Saya akan mencoba membandingkan dari segi keindahan dari website, fasilitas yang ada pada website tersebut, ataupun kelebihan-kelebihan lainnya yang terdapat pada website yang akan saya bandingkan.  

Pemerintahan::
          Pada website pemerintah, saya akan membandingkan website partai yaitu Partai Demokrat (http://www.demokrat.or.id/) dan Partai Amanat Nasional (http://www.pan.or.id/).  Jika dilihat dari tampilan awal ketika anda melihat kedua website tersebut pertama-tama dapat dilihat perbedaan dari segi layout.
Dapat dilihat dari gamba diatas, jika Website dari Partai Demokrat lebih terlihat simple jika dibandingkan dengan Partai Amanat Nasional. Setiap orang pastinya memiliki pandangan masing-masing mengenai tampilan tersebut. Namun menurut saya, tampilan dari website Partai Demokrat lebih baik dibandingkan dengan website Partai Amanat Nasional (PAN), mengapa demikian? Karena menurut saya tampilan dari PAN terlalu ramai dengan warna-warna yang ada jika dibandingkan dengan Partai Demokrat. Ketika anda melihat website Partai Demokrat pada tulisan tidak terlihat padat, sedangkan website PAN terlihat sangat padat dengan tampilan-tampilan yang disisipkan dibeberapa bagian.
Pada segi fasilitas, menurut saya website Partai Demokrat lebih beragam dibandingkan dengan PAN. Jika melihat dari apa yang disuguhkan dari masing-masing website tersebut,  masing-masing memberikan sejarah dan profil mengenai partai-nya, visi-misi, susunan organisasi dan lain-lain. Pada website Partai Demokrat terdapat beberapa tambahan seperti berita-berita mengenai partai tersebut dan mengenai perkembangan-perkembangan pendidikan, partai, perekonomian, sosial, dan masih banyak lagi. Partai Demokrat juga memiliki fasilitas tambahan fasilitas online, seperti E-learning, KTA online, E-Oficce online, dan lain-lain dengan tujuan para anggota dapat dengan mudah mengakses urusan  mengenai partai dan mendapatkan informasi dengan mudah. Pada website PAN lebih menonjolkan berita yang ingin diangkat, seperti dapat dilihat pada gambar tersebut PAN lebih membicarakan tokoh-tokoh dari partainya.

Perusahaan::
            Pada perusahaan saya akan membandingkan website stasiun TV . Stasiun TV  yang akan saya bandingkan adalah stasiun SCTV (http://www.sctv.co.id/) dan Trans TV (http://www.transtv.co.id/). Dapat diketahui stasiun TV SCTV lebih dahulu dibandingkan Trans TV, namun saya ingin membandingkan kemajuan ataupun kelebihan dari website yang tersedia. Terkadang website juga dapat membantu para pemirsa mencari info mengenai layanan maupun tayangan yang akan ditayangkan.
            Pada print screen tersebut dapat dilihat, bahwa tampilan dari website Trans TV lebih beragam dengan tayangan-tayangan yang disuguhkan oleh stasiun TV tersebut dengan sangat menarik dibandingkan website SCTV yang hanya menampilkan beberapa foto dari acara yang sedang dipromosikan pada stasiun TV tersebut. Dari sebi warna pun website Trans TV lebih beragam di bandingkan SCTV yang hanya menggunakan warna putih, biru, dan orange yang lebih dominan.
            Tentunya dalam website kedua stasiun TV tersebut menyebutkan profil mengenai statsiun TV masing-masing, visi dan misi, bahkan acara-acara yang ada di stasiun TV tersebut. Namun menurut saya, website Trans TV lebih menarik dalam menampilkan profil acara yang ada bahkan saya sendiri merasa tertarik untuk mengunjungi website Trans TV dibandingkan website SCTV. Bagi saya dengan tampilan yang menarik dan suguhan gambar dari tayangan yang akan disuguhkan dapat memberi gambaran mengenai acara televisi itu sendiri.


Perorangan::
            Pada situs perorangan sejujurnya saya tidak memiliki gambaran website siapa yang akan saya bandingkan, kerena saya tidak pernah melihat website seseorang secara mendetail. Namun kali ini saya akan membandingkan website penanyi wanita cantik, yaitu Agnes Monica (www.agnesmonicaofficial.com/) dan Dewi Sandra (www.dewi-sandra.com/).
            Kedua website ini lumayan membuat saya kagum dengan tampilan awalnya yang menunjukkan kecantikan keduanya. Namun pada tampilan awal website Agnes lebih menarik dibandingkan website Dewi Sandra karena ketika muncul website Agnes anda akan mendengarkan suara Agnes salah satu lagunya.
            Jika dilihat dari segi kemudahan untuk melihat website kedua bintang ini, saya lebih berpendapat website Dewi Sandra lebih mudah dibandingkan Agnes. Karena untuk melihat profile Agnes pun anda harus memilih beberapa tampilan yang tersedia, memerlukan beberapa tahap untuk melihat profilnya. Berbeda dengan Dewi Sandra, jika ingin melihat profil-nya anda cukup mengeklik Abaout kemudian akan muncul profil Dewi Sandra dengan foto sebagai lay-out.
            Didalam kedua website terdapat kelebihan satu sama lain. Seperti yang sudah disebutkan diatas bahwa website milik Dewi Sandra lebih mudah di akses dari pada website Agnes Monica, namun jika dilihat dari segi keunikan desainwebsite milik Agnes Monica lah yang lebih unggul. Pada website milik Dewi Sandra terdapat schedule tetapi sayangnya tidak ada jadwal apapun yang semestinya diisi untuk para fans yang menanti penampilannya.
            Demikian lah pendapat saya untuk membandingkan beberapa website dari Pemerintahan, Peusahaan, dan perorangan. Jika ada kata-kata yang tidak berkenan saya pribadi mohon maaf. Terimakasih.

PRO-KONTRA TEKNOLOGI INTERNET DAN REKOMENDASI INTERNET YANG BAIK DAN AMAN UNTUK ANAK DAN REMAJA


Pada tugas Psikologi dan Teknologi Internet, kali ini saya akan mencoba menjabarkan bagaimana teknologi internet mempengaruhi perkembangan anak dan remaja.
Internet adalah sekumpulan jaringan yang memadukan antara komputer satu dengan komputer lainnya yang menyediakan situs-situs internet. Layanan internet yang diberikan dapat diakses untuk melayani perorangan maupun korporat, baik semua layanan komunikasi maupun layanan sumber daya informasi yang digunakan untuk seluruh manusia dipenjuru dunia.
Perkembangan internet yang luar biasa diberbagai kalangan tentunya dengan hal positif. Karena internet menawarkan berbagai keunggulan dibandingkan dengan media lainnya. Beberapa keunggulan diantaranya: komunikasi yang mudah dan mudah, sumber informasi yang besar, dan lain-lain.
Teknologi dunia maya ini memberikan banyak kesempatan kepada individu untuk mengekspresikan diri secara unik. Seperti social network misalnya Facebook, dan twitter, youtube, situs-situs lain yang dapat mengembangkan kreativitas. Namun terkadang para anak yang masih dalam perkembangan tidak mengetahui fungsi dari social network tersebut. Mereka sering mengekspresikan dirinya terlalu berlebihan, misalnya menulis kata-kata yang sifatnya hujatan dan cacian kepada orang lain sehingga dapat menjatuhkan orang lain. Terkadang hal seperti itu dapat mengganggu perkembangan dari anak tersebut. Ketika anak itu merasa terganggu atau tertekan, kemungkinan terbesar anak itu akan selalu memikirkan hal-hal yang buruk dan mengganggu emosi mereka sehingga apapun yang dilalukan tidak terarah.
Dengan kata lain, tentu internet akan bermanfaat jika mampu meningkatkan kehidupan seseorang, dan sebaliknya menjadi penyakit jika membuat kacau kehidupan orang tersebut. Pengaruh buruk akan terjadi jika internet digunakan sebagai sarana untuk mengisolasi diri. Banyak orang tidak sadar bahwa lama-kelamaan ia menutup diri terhadap komunikasi sosial entah karena keasikan ngebrowse atau karena internet dipakai sebagai pelarian dari masalah-masalah yang berhubungan dengan kepribadiannya. Hal itu dapat terjadi karena ada individu yang menampilkan kepribadian yang berbeda pada saat online dengan offline. Motivasi dibalik itu tentu berbeda antara satu orang dengan yang lain. Permasalahan akan rumit jika alasannya adalah karena individu tersebut tidak puas/suka terhadap dirinya sendiri (mungkin karena rasa minder, malu, atau merasa tidak pantas), lantas menciptakan dan menampilkan kepribadian yang lain sekali dari dirinya yang asli. Seringkali ia lebih suka pada kepribadian hasil rekayasa yang baru karena tampak ideal baginya.
Seperti youtube, siapapun dapat mengakses atau ngupload video yang diinginkan. Jika anda ingin mencari video atau pun liputan televisi, saat ini anda dapat melihat di youtube. Namun saat ini banyak orang yang menyalah gunakan fasilitas yang ada, seperti melihat video porno dan lain-lain hal yang bersifat negatif. Beberapa penelitian mengungkapkan bahwa situs porno mendorong terjadinya tindak kriminal dan perilaku seks menyimpang. 
Menurut penelitian, situs porno memungkinkan user/netter untuk melakukan berbagai komunikasi erotik melalui komputer mulai dari tingkatan yang bersifat godaan atau lelucon porno, pencarian dan tukar-menukar informasi mengenai pelayanan seksual sampai pada diskusi terbuka tentang perilaku seks menyimpang. Selain itu komunikasi melalui internet seringkali digunakan untuk mengeksploitasi pornography yang melibatkan anak-anak dan remaja serta alat yang dipakai untuk menyamarkan identitas seksual seseorang dengan tujuan tertentu.  Hal- hal seperti itu lah yang harus diwaspadai oleh para orang tua agar anak dapat mengetahui batasan-batasan dalam penggunaan fasillitas yang tersedia diinternet.
Perkembangan para anak dan remaja selain dari dirinya sendiri sesungguhnya bergantung dari pola asuh orang tua dan lingkungan sekitarnya. Dengan pengawasan orang tua sejak dini, mungkin saja dapat meminimalisir anak atau para remaja mengakses situs-situs yang bersifat negatif. Misalnya orang tua memberikan toleransi kepada anak dengan menaru komputer ditempat yang dapat dijangkau oleh orang tua, atau untuk anak mengakses situs-situs tertentu diperkecil  bahkan orang tua dapat memperikan pengertian mengenai fasilitas internet itu sendiri.
Pemerintah pun dapat membantu menyelamatkan anak bangsa dari hal-hal negatif yang dapat merusak pola pikir dan cara pandang anak terhadap suatu kedewasaan yang berlebihan dari kecanggihan internet itu sendiri.
Demikianlah pendapat saya mengenai pro-kontra dari teknologi internet dan gambaran hal-hal yang negatif dari internet, karena sesungguhnya fasilitas yang diberikan oleh internet luar biasa. Jika dalam penulisan yang saya buat menyinggung saudara, mohon maaf sebesar-besarnya. Terimakasih

       

Minggu, 27 November 2011

ANALISIS DAN PERBANDINGAN FASILITAS INTERNET:


Internet adalah sekumpulan jaringan yang memadukan antara komputer satu dengan komputer lainnya yang menyediakan situs-situs internet. Layanan internet yang diberikan dapat diakses untuk melayani perorangan maupun korporat, baik semua layanan komunikasi maupun layanan sumber daya informasi yang digunakan untuk seluruh manusia dipenjuru dunia.
            Perkembangan internet yang luar biasa diberbagai kalangan tentunya dengan hal positif. Karena internet menawarkan berbagai keunggulan dibandingkan dengan media lainnya. Beberapa keunggulan diantaranya: komunikasi yang mudah dan mudah, sumber informasi yang besar, dan lain-lain.
            Begitu banyak fasilitas internet seperti browser, email, chat (Instant Masseging), dan social network lainnya. Dalam hal ini saya akan mencoba membandingkan beberapa fasilitas-fasilitas yang ada menurut kenyamanan dan mana yang sering saya gunakan.
1.      Email : Gmail vs Yahoo
Pada fasilitas email ini saya menggunakan keduanya dengan membedakan kegunaan atau email apa saja yang masuk. Seperti, untuk tugas kuliah dan data penting lainnya saya menggunakan Gmail, namun untuk informasi lainnya seperti suatu group musik dan pemberitahuan melalui social network saya menggunakan Yahoo. Hal tersebut tidak lain memudahkan saya memilah tulisan yang masuk.
Namun, jika dibandingkan keduanya masing-masing memiliki kenyamanan dan efisiensi yang berbeda. Menurut saya lebih nyaman menggunakan Gmail, karena saat Log In langsung masuk ke fasilitas email. Tetapi pada Yahoo, pastinya kita disuguhi beberapa berita-berita seperti gosip, berita terhangat dan lain-lain padalah kita dapat melihatnya ditelevisi maupun media masa lainnya. Menurut saya hal itu memperlambat akses email yang kita butuhkan dengan cepat.

2.      Instant masseging : YM vs Gtalk
Secara pribadi saya sering menggunakan YM dibandingkan dengan Gtalk. Melihat kemudahan akses dan lebih banyak yang menggunakan fasilitas instant masseging atau lebih sering dikenal chat, yaitu YM. Itulah pendapat saya, mungkin karena saya lebing sering menggunakan YM dari pada Gtalk. Bagi anda yang memiliki keduanya mungkin merasakan kedua fasilitas ini memiliki kesamaan fungsi yang sama yaitu berinteraksi secara pribadi secara perorangan.

3.      Social Network : Facebook vs Twitter
Pada social network, saya membandingkan Facebook dan Twitter. Hal ini tidak lain media itulah yang sering saya gunakan dan mudah diakses melalui ponsel (BlackBerry). Saya memiliki beberapa pandangan berbeda dengan kebanyakan orang disekitar saya mengenai fasilitas ini.
Menurut saya, Facebook dan twitter termasuk salah satu media pribadi yang dapat kita akses kapan saja. Bahkan banyak menggunakannya untuk update apapun mengenai dirinya, sedang dimana, dengan siapa, dan hal apa yang sedang individu itu lakukan. Terkadang banyak orang menggunakan fasilitas ini untuk mencurahkan isi hati mereka tanpa memikirkan orang lain.
Jika dibandingkan fasilitas, Facebook lebih unggul dibandingkan Twitter. Karena di Facebook ada fasilitas chat antar pribadi, mengobrol antar wall, comment update orang lain, upload foto dan video dengan mudah. Namun pada twitter, kita hanya bisa update status, RT (sama seperti comment), dan reply (membalas tulisan yang dikirimkan ke seseorang atau pengguna).
Saya lebih sering menggunakan Facebook untuk menulis apapun yang ingin saya tulis dengan mempertimbangkan banyak hal, mengupload foto-foto yang saya inginkan, chat dan lain-lain sebagainya. Untuk Twitter, saya lebih sering mengobrol dengan cara RT atau reply, dan mengupdate apa yang saya pikirkan dan rasakan (lebih terbuka dari Facebook karna orang yang terbatas).


Demikian fasilitas dan perbandingan yang dapat saya rasakan atau alami setelah menggunakan fasilitas tersebut. Mohon maaf jika dalam tulisan saya terdapat kata-kata yang tidak berkenan. Terima kasih.
           

Senin, 16 Mei 2011

STRESS MEMPENGARUHI LINGKUNGAN

A. Definisi Stress
Istilah stres ditemukan oleh Hans Selye (dalam Sehnert, 1981) yang mendefinisikan stres sebagai respon yang tidak spesifik dari tubuh pada tiap tuntutan yang dikenakan padanya. Dengan kata lain istilah stres dapat digunaan untuk menunjukkan suatu perubahan fisik yang luas yang disulut oleh berbagai faktor psikoogis atau faktor fisik atau kombinasi kedua faktor tersebut.
Stress adalah pengalaman yang bersifat internal yang menciptakan adanya ketidak seimbangan fisik dan psikis dalam diri seseorang akibat dari faktor lingkungan eksternal, organisasi atau orang lain (Szilagyi, 2000). Stress biasanya dianggap sebagai sesuatu yang negatif. Sering dikira disebabkan oleh sesuatu yang buruk, dan disebut sebagai distress. Tetapi ada juga stress syang positif, yang disebabkan oleh sesuatu yang baik, misal dipromosikan untuk kenaikan pangkat dengan diberikan pekerjaan di tempat lain.Gibson, Ivancevich dan Donnely (1996) mendefinisikan stress sebagai suatu tanggapan penyesuaian, diperantarai oleh perbedaan- perbedaan individu dan atau proses psikologis, akibat dari setiap tindakan lingkungan, situasi, atau peristiwa yang menetapkan permintaan psikologis dan atau fisik berlebihan kepada seseorang. Definisi tersebut menggambarkan stress sedikit lebih negatif, sedangkan menurut pakar stress, Dr. Hans Selye,memperkenalkan stress sebagai suatu rangsangan dalam pengertian posisif,disebut sebagai Eutress. Eustress membuat individu mampu beradaptasi terhadap lingkungan dan menyebabkan terjadinya perkembangan ke arahyang lebih baik. Eutress diperlukan dalam hidup.
Menurut Lazarus (1976) stres adalah suatu keadaan psikologis individu yang disebabkan kerena individu dihadapkan pada situasi internal dan eksternal. Sedangkan menurut Korchin (1976) keadaan stres muncul apabila tuntutan-tuntutan yang luar biasa atau terlalu banyak mengancam kesejahteraan atau integritas seseorang. Stres tidak hanya kondisi yang menekan seseorang ataupun keadaan fisik atau psikologis seseorang maupun reaksinya terhadap tekanan tadi, akan tetapi stres adalah keterkaitan antara ketiganya (Prawitasari, 1989). Karena banyaknya definisi mengenai stres, maka Sarafino (1994) mencoba mengkonseptualisasikan ke dalam tiga pendekatan, yaitu :
1. Stimulus
Keadaan atau situasi dan peristiwa yang dirasakan mengancam atau membahayakan yang menghasilkan perasaan tegang disebut sebagai stressor. Beberapa ahli yang menganut pendekatan ini mengkategorikan stresor menjadi tiga :
a. Peristiwa katastropik, misalnya angin tornado atau gempa bumi.
b. Peristiwa hidup yang penting, misalnya kehilangan pekerjaan atau orang yang dicintai.
c. Keadaan kronis, misalnya hidup dalam kondisi sesak atau bising.
2. Respon
Respon adalah reaksi sesorang terhadap stresor. Untuk itu dapat diketahui dari dua komponen yang saling berhubungan, yaitu komponen psikologis dan komponen fisiologis.
a. Komponen psikologis, seperti perilaku, pola pikir dan emosi
b. Komponen fisiologis, seperti detak jantung, mulut yang mongering (sariawan), keringat dan sakit perut.
Kedua respon tersebut disebut dengan strain atau ketegangan.
3. Proses
Stres sebagai suatu proses terdiri dari stesor dan strain ditambah dengan satu dimensi penting yaitu hubungan antara manusia dengan lingkungan. Proses ini melibatkan interaksi dan penyesuaian diri yang kontinyu, yang disebut juga dengan istilah transaksi antar manusia dengan lingkungan, yang didalamnya termasuk perasaan yang dialami dan bagaimana orang lain merasakannya.

B. Jenis Stress
Quick dan Quick (1984) mengkategorikan jenis stres menjadi dua, yaitu:
1. Eustress, yaitu hasil dari respon terhadap stres yang bersifat sehat, positif, dan konstruktif (bersifat membangun). Hal tersebut termasuk kesejahteraan individu dan juga organisasi yang diasosiasikan dengan pertumbuhan, fleksibilitas, kemampuan adaptasi, dan tingkat performance yang tinggi.
2. Distress, yaitu hasil dari respon terhadap stres yang bersifat tidak sehat, negatif, dan destruktif (bersifat merusak). Hal tersebut termasuk konsekuensi individu dan juga organisasi seperti penyakit kardiovaskular dan tingkat ketidakhadiran (absenteeism) yang tinggi, yang diasosiasikan dengan keadaan sakit, penurunan, dan kematian.
Kaitan Stres dengan Psikologi Lingkungan
Ketika tidak mengalami stres, individu umumnya menggunakan banyak waktunya untuk mencapai keseimbangan dengan lingkungannya. Dalam keadaan seperti itu, ada waktu-waktu tertentu dimana kita sebenarnya justru mengalami stres. Bahkan suatu stres terkadang tidak terkait dengan masalah ketidakseimbangan (disekuilibrium). Ada waktu-waktu tertentu, dimana lingkungan menyajikan tantangan yang terlalu besar atau individu dapat menghilangkannya dengan kemampuan coping behavior. Di lain pihak, individu juga dapat mengalami keduanya. Pada kondisi inilah terjadi disekuilibrium yang bergantung dari proses-proses fisik, psikologis, dan fisiologis.
Hal lain yang belum dibahas adalah elemen-elemen lingkungan yang dapat mempengaruhi proses terjadinya disekuilibrium maupun ekuilibrium dalam kaitan manusia dengan lingkungannya. Dalam hal ini stres bisa terjadi ketika individu menjumpai kondisi lingkungan yang penuh stres sebagai ancaman yang secara kuat menantang atau melampaui kemampuan copingnya. Sebuah situasi dapat terlihat sebagai suatu ancaman dan berbahaya secara potensial apabila melibatkan hal yang memalukan, kehilangan harga diri, kehilangan pendapatan, dan seterusnya (Heimstra & McFarling, 1978).
Dalam konteks lingkungan binaan, maka stres dapat muncul jika lingkungan fisik dan rancangan secara langsung atau tidak langsung menghambat tujuan penghuni, dan jika rancangan lingkungannya membatasi strategi untuk mengatasi hambatan tersebut, maka hal itu merupakan sumber stres. Dalam mengulas dampak lingkungan binaan terutama bangunan terhadap stres psikologis, Zimring (1989) mengajukan dua pengandaian.
Hasil penelitian dari Levy dkk. (1984) ditemukan bahwa stres dapat timbul dari kondisi-kondisi yang bermacam-macam, seperti di tempat kerja, di lingkungan fisik, dan kondisi sosial. Stres yang timbul dari kondisi sosial bisa dari lingkungan rumah, sekolah, ataupun tempat kerja. Singkatnya, terdapat banyak aspek lingkungan yang dapat menciptakan stres.

C. Hubungan Stres Terhadap Perilaku Individu
Menurut Veitch & Arkkelin (1995) stres dicirikan sebagai proses yang membuka pikiran kita, sehingga kita akan bertemu dengan stresor, menjadi sadar akan bahaya, memobilisasi usaha kita untuk mengatasinya, mendorong untuk melawannya, serta yang membuat kita berhasil atau gagal dalam beradaptasi. Ketika suatu stresor kita evaluasi, kita seleksi strategi-strategi untuk mengatasinya, kita lakukan “pergerakan-pergerakan” tubuh secara fisiologis dan psikologis untuk melawan stresor, dan lalu mengatasinya dengan suatu tindakan. Jika coping behavior (perilaku penyesuaian diri) ini berhasil, maka adaptasi akan meningkat dan pengaruh stres akan menghilang. Sementara jika coping behavior gagal, individu merasa tidak berdaya atau tidak tahu lagi harus berbuat apa dalam menghadapi stres, maka stres akan menerus, pembangkitan fisik dan fisiologis tidak dapat dihindari sehingga penyakit fisik akan menyerang, bahkan akan timbul reaksi panik berkepanjangan yang bisa menjurus pada timbulnya gejala psikoneurosis (gangguan jiwa).
Stresor lingkungan, menurut Stokols (Brigham, 1991; dalam Prabowo 1998), merupakan salah satu aspek lingkungan yang dapat menyebabkan stres, penyakit, atau akibat-akibat negatif pada perilaku masyarakat. Stokols mengatakan bahwa apabila kesesakan tidak dapat diatasi, maka akan menyebabkan stres pada individu. Stres yang dialami individu dapat memberikan dampak yang berbeda tergantung pada kemampuan individu dalam menghadapi stres. Individu yang mengalami stres umumnya tidak mampu melakukan interaksi sosial dengan baik, sehingga dapat menurunkan perilaku untuk membantu orang lain.
Selye mengamati serangkaian perubahan biokimia dalam sejumlah organisme yang beradaptasi terhadap berbagai macam tuntutan lingkungan, ia mengidentifikasi tiga tahap dalam respon sistemik tubuh terhadap kondisi-kondisi penuh stres, yang diistilahkan General Adaptation Syndrome (GAS).
Jika diterapkan pada orang, maka sindrom adaptasi umum dari Selye dapat diuraikan secara singkat sebagai berikut: Jika seseorang untuk pertama kali mengalami situasi penuh stres, maka mekanisme pertahanan dalam badan diaktifkan: kelanjar-kelenjar mengeluarkan atau melepaskan adrenalin, cortisone dan hormon-hormon lain dalam jumlah yang besar, perubahan-perubahan yang terkoordinasi berlangsung dalam sistem saraf pusat (tahap alarm). Jika exposure (paparan) terhadap pembangkit stres bersinambung dan badan mampu menyesuaikan, maka terjadi perlawanan terhadap sakit. Reaksi badaniah yang khas terjadi untuk menahan akibat-akibat dari pembangkit stres (tahap resistance). Tetapi jika paparan terhadap stres berlanjut, maka mekanisme pertahanan badan secara perlahan-lahan menurun sampai menjadi tidak sesuai, dan satu dari organ-organ gagal untuk berfungsi sepatutnya. Proses pemunduran ini dapat mengarah ke penyakit dan hampir semua bagian dari badan (tahap exhaustion).
Menurut Iskandar (1990), proses terjadinya stres juga melibatkan komponen kognitif, sebagaimana diperjelas dalam gambar dibawah ini: Stres yang diakibatkan oleh kepadatan dalam ruang dengan penilaian kognitif akan mengakibatkan denyut jantung bertambah tinggi dan tekanan darah menaik, sebagai reaksi stimulus yang tidak diinginkan. Dengan kondisi tersebut, maka seseorang yang berusaha mengatasi situasi stres akan memasuki tahapan kelelahan karena energinya telah banyak digunakan untuk mengatasi situasi stres. Dalam berbagai kasus, stimulus yang tidak menyenangkan tersebut muncul berkali-kali, sehingga reaksi terhadap stres menjadi berkurang dan melemah. Proses ini secara psikologis dikatakan sebagai adaptasi. Hal ini terjadi karena sensitivitas neuropsikologis semakin melemah dan melalui penelitian kognitif situasi stres tersebut berkurang (Iskandar, 1990).
Contoh dalam kehidupan sehari-hari:
Ketika seorang mahasiswa sedang mengalami kesulitan menyesuaikan jadwal kuliah, antara tugas dan kewajiban. Maka mahasiswa tersebut akan membuat pemikiran yang akan muncul sebagai respon dari apa yang ia hadapi. Misalnya, disaat sedang dalam kelas mahasiswa tersebut selalu memikirkan tugas-tugas dan wajiban membantu orang tua. Sehingga ia dituntut menyesuaikan prilaku dan hal-hal yang ada dipikirannya. Kemudian ia membuat jadwal dihari tertentu mengerjakan tugas-tugas dan dihari berikutnya meluangkan waktu untuk membantu orang tuanya.
Pada akhirnya mahasiswa tersebut dalam menyelesaikan masalah yang selalu mengganggu pikirannya.

Definisi Stres, Hubungan Stres dengan Psikologi Lingkungan dalam Kehidupan Sehari-hari


A. Definisi Stress
Istilah stres ditemukan oleh Hans Selye (dalam Sehnert, 1981) yang mendefinisikan stres sebagai respon yang tidak spesifik dari tubuh pada tiap tuntutan yang dikenakan padanya. Dengan kata lain istilah stres dapat digunaan untuk menunjukkan suatu perubahan fisik yang luas yang disulut oleh berbagai faktor psikoogis atau faktor fisik atau kombinasi kedua faktor tersebut.
Stress adalah pengalaman yang bersifat internal yang menciptakan adanya ketidak seimbangan fisik dan psikis dalam diri seseorang akibat dari faktor lingkungan eksternal, organisasi atau orang lain (Szilagyi, 2000). Stress biasanya dianggap sebagai sesuatu yang negatif. Sering dikira disebabkan oleh sesuatu yang buruk, dan disebut sebagai distress. Tetapi ada juga stress syang positif, yang disebabkan oleh sesuatu yang baik, misal dipromosikan untuk kenaikan pangkat dengan diberikan pekerjaan di tempat lain.Gibson, Ivancevich dan Donnely (1996) mendefinisikan stress sebagai suatu tanggapan penyesuaian, diperantarai oleh perbedaan- perbedaan individu dan atau proses psikologis, akibat dari setiap tindakan lingkungan, situasi, atau peristiwa yang menetapkan permintaan psikologis dan atau fisik berlebihan kepada seseorang. Definisi tersebut menggambarkan stress sedikit lebih negatif, sedangkan menurut pakar stress, Dr. Hans Selye,memperkenalkan stress sebagai suatu rangsangan dalam pengertian posisif,disebut sebagai Eutress. Eustress membuat individu mampu beradaptasi terhadap lingkungan dan menyebabkan terjadinya perkembangan ke arahyang lebih baik. Eutress diperlukan dalam hidup.
Menurut Lazarus (1976) stres adalah suatu keadaan psikologis individu yang disebabkan kerena individu dihadapkan pada situasi internal dan eksternal. Sedangkan menurut Korchin (1976) keadaan stres muncul apabila tuntutan-tuntutan yang luar biasa atau terlalu banyak mengancam kesejahteraan atau integritas seseorang. Stres tidak hanya kondisi yang menekan seseorang ataupun keadaan fisik atau psikologis seseorang maupun reaksinya terhadap tekanan tadi, akan tetapi stres adalah keterkaitan antara ketiganya (Prawitasari, 1989). Karena banyaknya definisi mengenai stres, maka Sarafino (1994) mencoba mengkonseptualisasikan ke dalam tiga pendekatan, yaitu :
1. Stimulus
Keadaan atau situasi dan peristiwa yang dirasakan mengancam atau membahayakan yang menghasilkan perasaan tegang disebut sebagai stressor. Beberapa ahli yang menganut pendekatan ini mengkategorikan stresor menjadi tiga :
a.       Peristiwa katastropik, misalnya angin tornado atau gempa bumi.
b.      Peristiwa hidup yang penting, misalnya kehilangan pekerjaan atau orang yang dicintai.
c.       Keadaan kronis, misalnya hidup dalam kondisi sesak atau bising.
2. Respon
Respon adalah reaksi sesorang terhadap stresor. Untuk itu dapat diketahui dari dua komponen yang saling berhubungan, yaitu komponen psikologis dan komponen fisiologis.
a.       Komponen psikologis, seperti perilaku, pola pikir dan emosi
b.      Komponen fisiologis, seperti detak jantung, mulut yang mongering (sariawan), keringat dan sakit perut.
Kedua respon tersebut disebut dengan strain atau ketegangan. 
3.  Proses
Stres sebagai suatu proses terdiri dari stesor dan strain ditambah dengan satu dimensi penting yaitu hubungan antara manusia  dengan lingkungan. Proses ini melibatkan interaksi dan penyesuaian diri yang kontinyu, yang disebut juga dengan istilah transaksi antar manusia dengan lingkungan, yang didalamnya termasuk perasaan yang dialami dan bagaimana orang lain merasakannya.

B. Jenis Stress
Quick dan Quick (1984) mengkategorikan jenis stres menjadi dua, yaitu:
1.      Eustress, yaitu hasil dari respon terhadap stres yang bersifat sehat, positif, dan konstruktif (bersifat membangun). Hal tersebut termasuk kesejahteraan individu dan juga organisasi yang diasosiasikan dengan pertumbuhan, fleksibilitas, kemampuan adaptasi, dan tingkat performance yang tinggi.
2.      Distress, yaitu hasil dari respon terhadap stres yang bersifat tidak sehat, negatif, dan destruktif (bersifat merusak). Hal tersebut termasuk konsekuensi individu dan juga organisasi seperti penyakit kardiovaskular dan tingkat ketidakhadiran (absenteeism) yang tinggi, yang diasosiasikan dengan keadaan sakit, penurunan, dan kematian.
Kaitan Stres dengan Psikologi Lingkungan
Ketika tidak mengalami stres, individu umumnya menggunakan banyak waktunya untuk mencapai keseimbangan dengan lingkungannya. Dalam keadaan seperti itu, ada waktu-waktu tertentu dimana kita sebenarnya justru mengalami stres. Bahkan suatu stres terkadang tidak terkait dengan masalah ketidakseimbangan (disekuilibrium). Ada waktu-waktu tertentu, dimana lingkungan menyajikan tantangan yang terlalu besar atau individu dapat menghilangkannya dengan kemampuan coping behavior. Di lain pihak, individu juga dapat mengalami keduanya. Pada kondisi inilah terjadi disekuilibrium yang bergantung dari proses-proses fisik, psikologis, dan fisiologis.
Hal lain yang belum dibahas adalah elemen-elemen lingkungan yang dapat mempengaruhi proses terjadinya disekuilibrium maupun ekuilibrium dalam kaitan manusia dengan lingkungannya. Dalam hal ini stres bisa terjadi ketika individu menjumpai kondisi lingkungan yang penuh stres sebagai ancaman yang secara kuat menantang atau melampaui kemampuan copingnya. Sebuah situasi dapat terlihat sebagai suatu ancaman dan berbahaya secara potensial apabila melibatkan hal yang memalukan, kehilangan harga diri, kehilangan pendapatan, dan seterusnya (Heimstra & McFarling, 1978).
Dalam konteks lingkungan binaan, maka stres dapat muncul jika lingkungan fisik dan rancangan secara langsung atau tidak langsung menghambat tujuan penghuni, dan jika rancangan lingkungannya membatasi strategi untuk mengatasi hambatan tersebut, maka hal itu merupakan sumber stres. Dalam mengulas dampak lingkungan binaan terutama bangunan terhadap stres psikologis, Zimring (1989) mengajukan dua pengandaian.
Hasil penelitian dari Levy dkk. (1984) ditemukan bahwa stres dapat timbul dari kondisi-kondisi yang bermacam-macam, seperti di tempat kerja, di lingkungan fisik, dan kondisi sosial. Stres yang timbul dari kondisi sosial bisa dari lingkungan rumah, sekolah, ataupun tempat kerja. Singkatnya, terdapat banyak aspek lingkungan yang dapat menciptakan stres.

C. Pengaruh Stres Terhadap Perilaku Individu
Menurut Veitch & Arkkelin (1995) stres dicirikan sebagai proses yang membuka pikiran kita, sehingga kita akan bertemu dengan stresor, menjadi sadar akan bahaya, memobilisasi usaha kita untuk mengatasinya, mendorong untuk melawannya, serta yang membuat kita berhasil atau gagal dalam beradaptasi. Ketika suatu stresor kita evaluasi, kita seleksi strategi-strategi untuk mengatasinya, kita lakukan “pergerakan-pergerakan” tubuh secara fisiologis dan psikologis untuk melawan stresor, dan lalu mengatasinya dengan suatu tindakan. Jika coping behavior (perilaku penyesuaian diri) ini berhasil, maka adaptasi akan meningkat dan pengaruh stres akan menghilang. Sementara jika coping behavior gagal, individu merasa tidak berdaya atau tidak tahu lagi harus berbuat apa dalam menghadapi stres, maka stres akan menerus, pembangkitan fisik dan fisiologis tidak dapat dihindari sehingga penyakit fisik akan menyerang, bahkan akan timbul reaksi panik berkepanjangan yang bisa menjurus pada timbulnya gejala psikoneurosis (gangguan jiwa).
Stresor lingkungan, menurut Stokols (Brigham, 1991; dalam Prabowo 1998), merupakan salah satu aspek lingkungan yang dapat menyebabkan stres, penyakit, atau akibat-akibat negatif pada perilaku masyarakat. Stokols mengatakan bahwa apabila kesesakan tidak dapat diatasi, maka akan menyebabkan stres pada individu. Stres yang dialami individu dapat memberikan dampak yang berbeda tergantung pada kemampuan individu dalam menghadapi stres. Individu yang mengalami stres umumnya tidak mampu melakukan interaksi sosial dengan baik, sehingga dapat menurunkan perilaku untuk membantu orang lain.
Selye mengamati serangkaian perubahan biokimia dalam sejumlah organisme yang beradaptasi terhadap berbagai macam tuntutan lingkungan, ia mengidentifikasi tiga tahap dalam respon sistemik tubuh terhadap kondisi-kondisi penuh stres, yang diistilahkan General Adaptation Syndrome (GAS).
Jika diterapkan pada orang, maka sindrom adaptasi umum dari Selye dapat diuraikan secara singkat sebagai berikut: Jika seseorang untuk pertama kali mengalami situasi penuh stres, maka mekanisme pertahanan dalam badan diaktifkan: kelanjar-kelenjar mengeluarkan atau melepaskan adrenalin, cortisone dan hormon-hormon lain dalam jumlah yang besar, perubahan-perubahan yang terkoordinasi berlangsung dalam sistem saraf pusat (tahap alarm). Jika exposure (paparan) terhadap pembangkit stres bersinambung dan badan mampu menyesuaikan, maka terjadi perlawanan terhadap sakit. Reaksi badaniah yang khas terjadi untuk menahan akibat-akibat dari pembangkit stres (tahap resistance). Tetapi jika paparan terhadap stres berlanjut, maka mekanisme pertahanan badan secara perlahan-lahan menurun sampai menjadi tidak sesuai, dan satu dari organ-organ gagal untuk berfungsi sepatutnya. Proses pemunduran ini dapat mengarah ke penyakit dan hampir semua bagian dari badan (tahap exhaustion).
Menurut Iskandar (1990), proses terjadinya stres juga melibatkan komponen kognitif, sebagaimana diperjelas dalam gambar dibawah ini: Stres yang diakibatkan oleh kepadatan dalam ruang dengan penilaian kognitif akan mengakibatkan denyut jantung bertambah tinggi dan tekanan darah menaik, sebagai reaksi stimulus yang tidak diinginkan. Dengan kondisi tersebut, maka seseorang yang berusaha mengatasi situasi stres akan memasuki tahapan kelelahan karena energinya telah banyak digunakan untuk mengatasi situasi stres. Dalam berbagai kasus, stimulus yang tidak menyenangkan tersebut muncul berkali-kali, sehingga reaksi terhadap stres menjadi berkurang dan melemah. Proses ini secara psikologis dikatakan sebagai adaptasi. Hal ini terjadi karena sensitivitas neuropsikologis semakin melemah dan melalui penelitian kognitif situasi stres tersebut berkurang (Iskandar, 1990).
Contoh dalam kehidupan sehari-hari:
Ketika seorang mahasiswa sedang mengalami kesulitan menyesuaikan jadwal kuliah, antara tugas dan kewajiban. Maka mahasiswa tersebut akan membuat pemikiran yang akan muncul sebagai respon dari apa yang ia hadapi. Misalnya, disaat sedang dalam kelas mahasiswa tersebut selalu memikirkan tugas-tugas dan wajiban membantu orang tua. Sehingga ia dituntut menyesuaikan prilaku dan hal-hal yang ada dipikirannya. Kemudian ia membuat jadwal dihari tertentu mengerjakan tugas-tugas dan dihari berikutnya meluangkan waktu untuk membantu orang tuanya.
Pada akhirnya mahasiswa tersebut dalam menyelesaikan masalah yang selalu mengganggu pikirannya.