Kamis, 24 Desember 2009

ESTETIKA ATAU KEINDAHAN


Estetika dan etika sebenarnya hamper tidak berbeda. Etika membehas tentang tingkah laku perbuatan manusia(aik dan buruk). Sedangkan estetika adalah untuk menemukan ukuran yang berlaku namun tentang apa yang indah dan tidak indah itu. Yang jelas dalam hal ini adalah karya seni manusia atau mengenai alam semesta ukuran keindahan.

Keindahan mempunyai daya tarik yang selalu bertambah, sedangkan yang tidak ada unsure keindahannya tidak mempunyai daya tarik. Daya tarik pernah ada dan tidak akan ditambah sifat indah itu adalah universal, yaitu sikap yang simpati dan empati.

1. APA ITU KEINDAHAN
Keindahan berasal dari kat indah yang berarti bagus, cantik, elok, dan molek. Salah satu pernyataan mengenai estetika dirumuskan oleh Clive Bell, "keindahan hanya dapat ditemukan oleh orang yang dalam dirinya sendiri telah memiliki pengalaman sehingga dapat mengenali wujud bermakna dalam satu benda atau karya Seni tertentu dengan getaran atau rangsangan keindahan".
Persoalan mengenai dasar pengalaman estetis sendiri muncul sejak abad 18 setelah berkembangnya matematika. Semua pemikir cenderung mencari dasar dasar yang kuat yang bersifat matematis untuk moral, politik hingga estetika. Pada abad pertengahan, pengalaman keindahan dikaitkan dengan kebesaran alam ciptaan Tuhan, pada masa ini pengalaman estetis dikaitkan dengan pengalaman religi. Pada jaman modern, pengalaman keindahan dikaitkan dengan tolak ukur lain seperti fungsi, efisiensi, yang memberi kepuasan, berharga untuk dirinya sendiri, pada cirinya sendiri, dan pada tahap kesadaran tertentu.
Kajian mengenai keindahan telah didokumentasikan dari jaman antik hingga sekarang. Pada jaman antik keindahan dalam Arsitektur dihargai lebih tinggi dibandingkan dengan keindahan obyek-obyek lainnya, akan tetapi secara mendasar tingkat keindahan pada aneka objek itu sama penting.Pada abad pertengahan, penelitian tentang keindahan umumnya diklasifikasikan sebagai cabang dari teologi. Hal ini dikarenakan adanya pendapat bahwa keindahan adalah atribut dari Tuhan. Penulis yang patut dicatat adalah Augustinus (354 -430 : De vera religione ). Ia mengatakan bahwa keindahan berdasarkan atas kesatuan dan keberaturan yang mengimbangi kompleksitas. Masing masing cara mengatur itu adalah melalui rhythm, simetri atau proporsi-proporsi sederhana (perbandingan ukuran yang enak dilihat).
Filosof lain yang terkenal adalah Thomas Aquino ( 1225 - 1274 ), menulis mengenai esensi dari keindahan. Rumusannya yang terkenal adalah "keindahan berkaitan dengan pengetahuan". Sesuatu disebut indah jika menyenangkan mata sipengamat, namun disamping itu terdapat penekanan pada pengetahuan bahwa pengalaman keindahan akan bergantung pada pengalaman empirik dari pengamat. Hal yang selalu mencolok adalah kondisi dan sikap terhadap subyek keindahan, persiapan individu untuk memperoleh pengalaman estetik. Selanjutnya, ia berpikir bahwa keindahan adalah hasil dari tiga sarat : keseluruhan ( lat. Integritas) atau kesempurnaan, keselarasan yang benar ( lat. Proportio ) dan kejelasan atau kecemerlangan.
Secara umum gagasan Thomas Aquinas merupakan rangkuman segala filsafat keindahan yang sebelumnya telah dihargai. Sejalan dengan Aristoteles, Thomas Aquinas menekankan pentingnya pengetahuan dan pengalaman empiris-aposteriori yang terjadi dalam diri manusia. Ketika mengkaji secara empirik obyek yang sulit untuk didefinisikan atau diukur secara langsung, pendefinisian dapat dipermudah dengan perbandingan dengan obyek objek atau benda lain, yang lebih mudah untuk dikaji, karena telah dikenal. Kemudian, daripada menggunakan real definition untuk sementara dapat digunakan definisi nominal untuk objek atau benda tersebut. Cara ini telah dimanfaatkan dalam pengkajian tentang keindahan oleh St.Augustinus dan Thomas Aquino.
Jauh sebelumnya, pada kebudayaan Yunani, definisi definisi nominal sudah banyak digunakan seperti pada tulisan Plato "Dialog", dimana terdapat beberapa bagian yang mencoba untuk memperjelas pengertian kata "keindahan". Metoda yang dilakukan tidak benar-benar empirik; metoda yang digunakan pada jaman ini mirip dengan fenomenologi modern yang menekankan terjadinya ilham Seni dalam penciptaan karya Seni itu sendiri dan juga menekankan kesinambungan pengamatan karya Seni muncul dan berkembangnya rasa keindahan atau pengalaman estetis. Tulisan tulisan Plato mengenai keindahan banyak didasari pada doktrinnya mengenai "idea". Menurut Plato segala kenyataan yang ada di dunia ini merupakan peniruan (mimesis) dari yang asli, dan yang asli menurutnya adalah yang terdapat didunia atas saja idea bukan di dunia nyata ini dan adalah jauh lebih unggul daripada kenyataan didunia ini.
Selanjutnya Plato berpendapat bahwa seseorang seharusnya mencoba menemukan pengetahuan dibelakang segalanya, yaitu pengetahuan tentang yang nyata dan permanen yang hadir sebagai pengertian tentang 'idea'. Satu dari unsur/ciri 'idea' itu adalah keindahan sifat permanen yang dimiliki oleh semua objek objek yang indah. Plato menitik beratkan pada pengalaman awal dari dirinya dan muridnya ( audience ), dan juga pada maksud-maksud yang diakumulasikan pada kata kata dari bahasa konvensional. Ketika memahami kata Yunani untuk indah, kalos, Plato mencatat bahwa kata ini pertama bermaksud 'baik' dan 'pantas'.
Pada abad pertengahan di Barat, tekanan diletakan pada subjek, proses yang terjadi ketika seseorang mendapatkan pengalaman keindahan. Pada jaman modern, tekanan justru diletakkan pada obyek, sehingga tampak bahwa estetika dipertimbangkan sebagai dari cabang dari sains, khususnya filsafat dan psikologi.
Melihat hal tersebut, khususnya dalam hubungan dengan tulisan ini, maka pertimbangan estetika dalam pengolahan rupa setidaknya dapat didekati melalui :
a. Pemahaman karya sebagai obyek estetik.
b. Pemahaman terhadap manusia sebagai subjek yang mengamati atau menciptakan karya yang estetik.

2. SIFAT KEINDAHAN SUBJEKTIF ATAU OBJEKTIF
Dalam estetika sebagai filsafat seni, ada tiga tema yang terus debat yaitu seniman sebagai subyektivitas; karya seni sebagai obyektivitas ungkapan seniman ke publik; dan penilaian seni tidaknya dalam apresiasi maupun kritik seni.Arus sekolahan yang mendasarkan ukuran estetika dari dalam karya itu sendiri disebut intrinsik (misalnya, sastra yang diapresiasi lewat tema, alur kisah, penokohan, klimaks cerita, padahan) berusaha obyektif menilai sastra dari dalam karya sastra itu tidak berdasar senang atau tidak senang yang subyektif. Sementara, penilaian ekstrinsik(misalnya, sosiologi sastra, berarti menilai sastra dengan ukuran ilmu sosiologi yang dari luar sastra itu sendiri) hingga subyektivitas penilai, misalnya sosiolog menonjol dalam mengukur karya itu.
Sekolahan ini dihadapkan pada persoalan filsafat yang bertanya secara mendasar bagaimana subyektivitas seni bisa menjadi obyektivitas indah itu sendiri? Secara ringkas, filsafat seni berabad-abad justru karena sejarah pralogis, logis-modernis, dan posmo setiap kali harus menjawab soal karya seni yang indah (dari subyektivitas seniman maupun apresiator publik) adalah BENAR-BENAR INDAH bagi publik? Kesulitan menjawab pertanyaan ini adalah kesadaran baru yang semakin berkembang bahwa indah, benar, dan baik itu adalah hasil olah apresiasi dan konstruksi nilai tiap zaman dalam apa yang disebut sebagai konstruksi nilai budaya. Jadi, yang indah menurut konstruksi nilai kultural yang menekankan utilitas akan diukur dari manfaat karya itu. Sedang yang indah menurut konstruksi tradisi yang tidak membedakan tahap-tahap pralogis dan logis serta menaruh kehidupan itu sendiri sebagai yang selalu dirayakan dan dirawat lantaran keindahannya, maka estetika di sini diukur dari apakah ia merusak eko kehidupan atau ia merawat dan memperindah kehidupan itu sendiri.
Konstruksi nilai ukuran logis- modernis estetika dalam filsafat seni Barat memuncak dalam titik estetika sebagai ukuran harmoni antara yang asri dan yang elok; antara yang inspiratif secara budi dan yang intuitif secara rasa; yang oleh Hegel diacu pada estetika karya-karya seni klasik dan romantik dari konstruksi nilai zamannya, di mana pengheningan dan pengendapan refleksi kesadaran akal budi yang makin sadar diri menaruh spirit atau roh lebih tinggi dari yang materi. Oleh Immanuel Kant, ukuran penghubung subyektivitas dan obyektivitas estetika dalam karya seni didasarkan pada yang ia sebut sebagai sublim, yaitu capaian seniman dalam karyanya yang sudah diendapkan oleh kesadaran budi hingga formanya tertangkap sublim serta mengatasi materia atau yang fisik. Sekolahan pendasaran logis- estetis ini, mempunyai kesulitan ketika harus membawa ukuran sublim itu ke kebenaran atau truth secara filsafat. Sampai hari ini estetika tidak pernah bisa masuk dalam filsafat sistematika logis karena muatan dan kentalnya bobot subyektivitas.
Karena itu, ketika kehidupan dengan ragam dimensi dan tidak bisa hanya dipilah-pilah dalam filsafat logis sistematis serta kesewenangan menentukan ukuran keindahan berdasar logika modernitas dengan kekuasaan logosentrisme (yang logos itulah yang paling benar) direaksi dengan sekolahan postmodernisme yang tidak hanya menolak merumuskan ukuran estetika dari sublim-tidaknya, tetapi juga menolak perumusan aliran terhadap dirinya karena keindahan untuk mereka adalah perayaan masing-masing seniman terhadap kehidupan yang beragam dan penentuan estetikanya selalu in the making. Untuk keluar dalam mencari ukuran estetika karya seni pertama-tama bisa diolah lewat mengembalikan dikotomi logis dan pralogis kembali ke sebuah rentang kekayaan kehidupan yang sebelum filsafat Barat Socratian sama penghargaannya dengan realitas kekayaan kehidupan di peradaban-peradaban lain yang menyumberkan estetika pada religiositas dan festival perayaan kehidupan untuk diukur seni tidaknya. Maka tidak heran seorang Nietszche bereaksi pada konstruksi melulu budi dan sisi logis Apolonian estetika sejak Socrates untuk dikembalikan ke pasangan kembarnya, yaitu daya gairah dan ledak dahsyat kehidupan yang Dyonisian, di mana seni dan tidak seninya estetika diukur dari pathos dan kehendak untuk mendayai kehidupan dalam will to power.

3. APA UKURAN KEINDAHAN
Konsep teoritis tentang keindahan mungkin pertama kali muncul di masa Yunani kuno. Sampai Abad Pertengahan ada beberapa persamaan dalam ukuran keindahan mereka. Yang indah itu haruslah:
  1. Seimbang, teratur, proposional: Plato, Phytagoras, Thomas Aquinas.


  2. Dapat dijadikan sarana untuk membawa penikmatnya menuju kontemplasi, melepaskan diri dari keterkungkungan subjek, untuk mencapai keindahan yang ada ‘di seberang sana’: Plato, Plotinus, Agustinus.


  3. Menentramkan jiwa, mengingatkan pada logos, keteraturan dan simetri: Stoa/Epikurus.


  4. Sesuatu yang terjadi dalam diri si subjek pada pengalamannya berinteraksi dengan objek keindahan: Aristoteles, Thomas Aquinas.

Kita dapat juga mengukur keindahan melalui beberapa argument dari berbagai peristiwa yang pernah kita saksikan, kita simak, atau bahkan hingga kita amati. Suatu masalah yaitu, lekak-lekuk tubuh pria atau wanita memiliki nilai estetis amat indah sebagai seni teologis. Tuhan menyukai keindahan dengan maha karya indah-Nya. Tapi, apakah orang bisa bebas mengekspresikan keindahan tubuh dan hasrat seksualnya ke ruang publik?
Manusia cenderung munafik ketika harus memilih hasrat pribadi atau kepentingan publik. Gejala itu bisa dilihat dari tingginya rating tayangan erotis di berbagai stasiun televisi, koran, atau majalah. Erotisme dikecam sekaligus dinikmati. Sensualitas erotis sebatas komodifikasi bagian-bagian tubuh yang membangkitkan birahi seksual bagi kerakusan kekayaan dan popularitas (kapitalisasi) tanpa kaitan mutu peradaban. Ketertarikan seksual pria-wanita berkait apresiasi keindahaan tubuh yang berfungsi bagi kelangsungan sejarah. Tapi, apakah memamerkan keindahan tubuh yang erotis atau melampiaskan hasrat seksual itu bebas dilakukan di ruang publik? Argumen bahwa hal itu merupakan privasi subjektif atas nama estetika, tidaklah relevan ketika dipertontonkan di ruang publik.
Hidup sosial memerlukan sejumlah batasan antara apa yang termasuk ruang publik dan privasi. Semua orang memiliki apresiasi seni dan keindahan, tapi orang bisa berdebat tentang apa yang disebut indah atau estetis dan erotis. Hasrat seksual merupakan bakat bawaan manusia, juga hewan. Tapi hasrat seksual tidak bisa dilampiaskan di sembarang waktu dan tempat.
Bagi pelaku, hubungan intim hingga orgasme merupakan sesuatu yang indah dan bernilai spiritual tinggi, tapi menjijikkan jika dipertontonkan ke ruang publik. Alih-alih mengapai spiritualitas, sebaliknya justru mendegradasi martabat kemanusiaan. Pornografi dan pornoaksi adalah wilayah publik yang bergantung pada apresiasi banyak orang sebagai pengguna, tapi juga berhubungan dengan konsep martabat kemanusiaan. Ada dimensi kecerdasan di dalam ekspresi seni, estetika, sensualitas dan erotisme yang membedakan manusia dari binatang.
Mereka lupa banyak pihak beragumen hanya Tuhan yang berhak menilai apakah tindakannya tergolong erotis atau saleh sehingga orang lain tidak berhak menilai. Mereka lupa bahwa Tuhan menurunkan wahyu dan mengutus nabi dan rasul-Nya sebagai pedoman menilai. Referensi tindakan juga bisa dicari dari tradisi yang tersusun dari pengalaman universal manusia tanpa bimbingan wahyu. Di sini pertanyaan tentang apa tujuan tindakan erotis atau maksiat dalam praktik seni dan estetika itu selalu penting diajukan.
Orang bertanya tentang efek negatif seni erotis dan siapa penanggung jawab moral bangsa. Bagaimana pun tindakan maksiat dan erotis atau sebaliknya di ruang publik menyumbang perkembangan moral bangsa tersebut. Soalnya, apa ukuran keindahan seni, erotisme dan kemaksiatan, atau kesalehan? Di sini ada sejumlah nilai otentik universal dari semua agama dan peradaban seperti judi, selingkuh, hubungan intim tanpa ikatan perkawinan dan erotisme. Masyarakat dan bangsa memiliki tujuan-tujuan ideal tentang kehidupan manusia dan peradabannya.
Senang atau benci kepada sesuatu bukan ukuran indah atau tidak indah, baik atau benar, tapi berkaitan dengan mutu kehidupan manusia. Jumlah orang yang menyukai judi atau hubungan seksual tanpa ikatan perkawinan, bukan ukuran judi atau hubungan intim itu boleh dilakukan. Pengalaman bangsa-bangsa berkemajuan dan sejarah adalah guru terbaik jika bangsa ini ingin meraih kehidupan yang lebih bermartabat.

4. FUNGSI KEINDAHAN DALAM KEHIDUPAN
Dalam kehidupan sehari hari, hal yang luar biasa adalah refreshmen yang didasarkan pada kontras. Panas dan dingin, malam dan siang, bayang dan kilap, air dan api, gunung dan lembah, kerja dan bermain adalah konsep dan fenomena penting tanpa dimana kehidupan kita akan menjadi lebih menyedihkan kebutuhan yang sama akan rangsangan, umumnya terdapat didalam Desain. Manusia menikmati keindahan berarti manusia mempunyai pengalaman keindahan. Pengalaman keindahan biasanya bersifat terihat(visual) atau terdengar (auditiry). Walaupun tidak terbatas pada dua bidang tersebut keindahan tersebut pada dasarnya adalah alamiah. Alam itu diciptakan oleh Tuhan, alamiah itu adalah wajar tidak berlebihan dan tidak kurang. Orang menciptakan itu pada dasarnya mencontoh keindahan yang di anugrahkan Tuhan kepada umatnya. Namun demikian orang yang mencontoh keindahan alam belum tentu menghasilkan keindahan.
Pada tahun 1750, Alexander Gottlieb Baumgarten melihat adanya syarat syarat tertentu dalam menafsirkan pekerjaan-pekerjaan Seni. Ia ingin mengetahui secara pasti mengapa seseorang dapat mengalami keindahan dan sanggup mengapresiasi pekerjaan Seni. Selanjutnya ia melakukan penelitian psikoogi Seni. Baumgarten tidak menggunakan lagi kata keindahan melainkan mengambil istilah "estetika" dari bahasa Yunani 'aisthekos', yang dihubungkan dengan persepsi.


5. HUBUNGAN KEINDAHAN DENGAN KEBENARAN
Dalam merumuskan dan mendeskripsikan konsep keindahan yang benar dan kontekstual (yaitu mampu mengarahkan zaman kembali kepada kebenaran Tuhan), kita harus mampu menggali keluar kebenaran yang sudah diwahyukan Allah lewat sejarah keselamatan dan Alkitab, lalu melakukan kontekstualisasi terhadap perkembangan konsep keindahan yang sudah terjadi sepanjang abad. Pertama-tama kita akan membahas perkembangan konsep keindahan yang ada. Ini perlu untuk dapat memahami pergumulan hati manusia sepanjang zaman tentang konsep keindahan ini. Tentu saja kita memahami hal ini dalam kerangka pikir adanya general revelation dan ‘sisa kebaikan’ pada hidup manusia.
Konsep keindahan itu sendiri sangat abstrak ia identik degan kebenaran. Batas keindahan akan berhenti pada sesuatu yang indah dan bukan pada keindahan itu sendiri. Orang yang mempunyai konsep keindahan adalah orang yang mampu berimajinasi, rajin dan kreatif dalam menghubungkan sesuatu benda dengan benda lain sebagai objek imajinasi. Demikian pula kata indah diterapkan untuk persatuan orang-orang yang beriman, para nabi, orang-orang yang menghargai kebenaran dalam agama, kata dan perbuatan serta orang-orang yang saleh merupakan persahabatan yang paling indah. jadi keindahan mempunyai dimensi interaksi yang sangat luas baik hubungan manusia dengan benda, manusia dengan manusia, manusia dengan Tuhan, dan bagi orang itu sendiri yang melakukan interaksi.

Demikian penelusuran data yang saya cari untuk menjabarkan tentang keindahan. Silakan menggeluarkan pendapat dan komentari. Terimakasih.


Referensi :
Bromiley, Geoffrey W. ed., International StAndard Bible Encyclopedia Vol.1
(Michigan: Eerdmans, 1979).




Sutrisno, FX. Mudji & Prof. Dr. Christ Verhaak, S. J., Estetika Filsafat Keindahan
(Yogyakarta: Kanisius, 1993).


PENILAIAN TERHADAP DIRI SENDIRI

Pandangan seseorang tentang dirinya sendiri atau penilaian kepada dirinya sering mengalami salah pengertian. Kebanyakan dari mereka mengasumsikan opini orang lain sebagai gambaran tentang dirinya. Kenyataannya, yang mengetahui bagaimana dirinya adalah individu itu sendiri. Setiap individu diharapkan dapat mengetahui kelebihan dan kelemahan bahkan individu tersebut harus mengetahui bagaimana cara untuk mengatasi kekurangan yang ada pada dirinya. Bukan hanya itu saja, yang perlu di kembangkan adalah bagaimana individu tersebut membawakan dirinya.

Banyak orang yang bertanya, bagaimana caranya agar kita dapat mengenali diri kita sendiri? Mungkin dapat dilakukan dengan cara yang biasa anda lakukan sehari- hari, yaitu bercermin. Dengan cermin anda dapat mengetahui apa saja yang anda miliki dalam diri anda. Bercermin bukan hanya berfungsi untuk melihat kelebihan dan kekurangan secara fisik atau berdandan dan lain sebagainya, tetapi bercermin juga dapat membantu anda mengenal diri anda lebih dalam. Sebagai contoh, anda sering memperhatikan bagian wajah, pastinya anda akan mengetahui bagaimana raut wajah anda. Misalnya wajah anda selalu ceria dihadapan orang lain walaupun kenyataannya anda sedang sedih, berarti anda pandai menyembunyikan perasaan dan anda tidak ingin menyusahkan orang lain tentang kesedihan anda. Dan masih banyak lagi contoh lainnya. Dengan bercermin semestinya seseorang dapat menilai atau memberi pandangan kepada dirinya. Jadi, dapat anda mulai dari sekarang bercermin bukan hanya kepentinyan penampilan saja tetapi dapat digunakan untuk memberikan deskripsi diri.

Dari cara pandang tersebut dapat anda buktikan kepada diri anda. Pada dasarnya kelemahan dan kelebihan bukan hanya dari segi fisik semata, tetapi sikap dan pola piker juga menentukan. Sebelum mendapatkan mata kuliah Psikologi Sosial dan Kesehanan Mental, saya belum menetahui bahwa kelemahan dan kelebihan dalam diri hanya diketahui oleh individu itu sendari. Saat saya di minta untuk menjabarkan tentang kelebihan dan kelemahan, saya hanya menjabarkan tentang kelebihan dan kekurangan saya secara fisik dan ditambah dengan opini orang lain tentang saya. Saat itu juga dosen saya mengetakan “Jika anda menyebutkan cirri fisik saja dan anda menhemukakan diri anda melalui opini orang lain, maka padat disimpulkan bahwa anda tidak mengenal diri anda”. Mulai saat itu saya mencoba menjabarkan penilaian tentang diri saya dengan apa yang saya rasakan.

Dari usaha yang saya lakukan akhirnya mendapatkan beberapa penjabaran. Antara lain, saya merasa diri saya keras kepala karena saya tidak akan menyetujui apa yang orang lain katakana jika menurut saya itu bukan kemauan saya, walaupun keyataannya saya yang salah tapi dapat berubah jika saya mencari tahu kebenarannya. Ekspresi wajah hal yang paling sering saya rasakan kurang bias di control, jika saya merasa marah, senang, kecewa, dan lain- lain pasti akan terlihat oleh orang lain dan terkadang membuat orang lain terganggu. Dalam perkataan juga demikian, terkadang saya sering berkata kasar jika saya benar- benar marah dan merasa terusik. Bahkan banyak orang yang tersinggung dengan kata- kata saya walaupun terkadang saya berkata kasar hanya membalas perlakuan orang tersebut atau berkata sesungguhnya, karena saya tidak suka memasang wajah manis kepada orang sedangkan saya tidak merasa nyaman kepada orang tersebut.

Dan masih banyak lagi yang sudah dapat miliki tentang deskripsi diri saya. Jika anda ingin memberikan keritik dan saran silakan komentari blog ini. Terimakasih.

Senin, 21 Desember 2009

ESTETIKA ATAU KEINDAHAN


Estetika dan etika sebenarnya hamper tidak berbeda. Etika membehas tentang tingkah laku perbuatan manusia(aik dan buruk). Sedangkan estetika adalah untuk menemukan ukuran yang berlaku namun tentang apa yang indah dan tidak indah itu. Yang jelas dalam hal ini adalah karya seni manusia atau mengenai alam semesta ukuran keindahan.


Keindahan mempunyai daya tarik yang selalu bertambah, sedangkan yang tidak ada unsure keindahannya tidak mempunyai daya tarik. Daya tarik pernah ada dan tidak akan ditambah sifat indah itu adalah universal, yaitu sikap yang simpati dan empati.


1. APA ITU KEINDAHAN

Keindahan berasal dari kat indah yang berarti bagus, cantik, elok, dan molek. Salah satu pernyataan mengenai estetika dirumuskan oleh Clive Bell, "keindahan hanya dapat ditemukan oleh orang yang dalam dirinya sendiri telah memiliki pengalaman sehingga dapat mengenali wujud bermakna dalam satu benda atau karya Seni tertentu dengan getaran atau rangsangan keindahan".
Persoalan mengenai dasar pengalaman estetis sendiri muncul sejak abad 18 setelah berkembangnya matematika. Semua pemikir cenderung mencari dasar dasar yang kuat yang bersifat matematis untuk moral, politik hingga estetika. Pada abad pertengahan, pengalaman keindahan dikaitkan dengan kebesaran alam ciptaan Tuhan, pada masa ini pengalaman estetis dikaitkan dengan pengalaman religi. Pada jaman modern, pengalaman keindahan dikaitkan dengan tolak ukur lain seperti fungsi, efisiensi, yang memberi kepuasan, berharga untuk dirinya sendiri, pada cirinya sendiri, dan pada tahap kesadaran tertentu.
Kajian mengenai keindahan telah didokumentasikan dari jaman antik hingga sekarang. Pada jaman antik keindahan dalam Arsitektur dihargai lebih tinggi dibandingkan dengan keindahan obyek-obyek lainnya, akan tetapi secara mendasar tingkat keindahan pada aneka objek itu sama penting.Pada abad pertengahan, penelitian tentang keindahan umumnya diklasifikasikan sebagai cabang dari teologi. Hal ini dikarenakan adanya pendapat bahwa keindahan adalah atribut dari Tuhan. Penulis yang patut dicatat adalah Augustinus (354 -430 : De vera religione ). Ia mengatakan bahwa keindahan berdasarkan atas kesatuan dan keberaturan yang mengimbangi kompleksitas. Masing masing cara mengatur itu adalah melalui rhythm, simetri atau proporsi-proporsi sederhana (perbandingan ukuran yang enak dilihat).
Filosof lain yang terkenal adalah Thomas Aquino ( 1225 - 1274 ), menulis mengenai esensi dari keindahan. Rumusannya yang terkenal adalah "keindahan berkaitan dengan pengetahuan". Sesuatu disebut indah jika menyenangkan mata sipengamat, namun disamping itu terdapat penekanan pada pengetahuan bahwa pengalaman keindahan akan bergantung pada pengalaman empirik dari pengamat. Hal yang selalu mencolok adalah kondisi dan sikap terhadap subyek keindahan, persiapan individu untuk memperoleh pengalaman estetik. Selanjutnya, ia berpikir bahwa keindahan adalah hasil dari tiga sarat : keseluruhan ( lat. Integritas) atau kesempurnaan, keselarasan yang benar ( lat. Proportio ) dan kejelasan atau kecemerlangan.
Secara umum gagasan Thomas Aquinas merupakan rangkuman segala filsafat keindahan yang sebelumnya telah dihargai. Sejalan dengan Aristoteles, Thomas Aquinas menekankan pentingnya pengetahuan dan pengalaman empiris-aposteriori yang terjadi dalam diri manusia. Ketika mengkaji secara empirik obyek yang sulit untuk didefinisikan atau diukur secara langsung, pendefinisian dapat dipermudah dengan perbandingan dengan obyek objek atau benda lain, yang lebih mudah untuk dikaji, karena telah dikenal. Kemudian, daripada menggunakan real definition untuk sementara dapat digunakan definisi nominal untuk objek atau benda tersebut. Cara ini telah dimanfaatkan dalam pengkajian tentang keindahan oleh St.Augustinus dan Thomas Aquino.
Jauh sebelumnya, pada kebudayaan Yunani, definisi definisi nominal sudah banyak digunakan seperti pada tulisan Plato "Dialog", dimana terdapat beberapa bagian yang mencoba untuk memperjelas pengertian kata "keindahan". Metoda yang dilakukan tidak benar-benar empirik; metoda yang digunakan pada jaman ini mirip dengan fenomenologi modern yang menekankan terjadinya ilham Seni dalam penciptaan karya Seni itu sendiri dan juga menekankan kesinambungan pengamatan karya Seni muncul dan berkembangnya rasa keindahan atau pengalaman estetis. Tulisan tulisan Plato mengenai keindahan banyak didasari pada doktrinnya mengenai "idea". Menurut Plato segala kenyataan yang ada di dunia ini merupakan peniruan (mimesis) dari yang asli, dan yang asli menurutnya adalah yang terdapat didunia atas saja idea bukan di dunia nyata ini dan adalah jauh lebih unggul daripada kenyataan didunia ini.
Selanjutnya Plato berpendapat bahwa seseorang seharusnya mencoba menemukan pengetahuan dibelakang segalanya, yaitu pengetahuan tentang yang nyata dan permanen yang hadir sebagai pengertian tentang 'idea'. Satu dari unsur/ciri 'idea' itu adalah keindahan sifat permanen yang dimiliki oleh semua objek objek yang indah. Plato menitik beratkan pada pengalaman awal dari dirinya dan muridnya ( audience ), dan juga pada maksud-maksud yang diakumulasikan pada kata kata dari bahasa konvensional. Ketika memahami kata Yunani untuk indah, kalos, Plato mencatat bahwa kata ini pertama bermaksud 'baik' dan 'pantas'.
Pada abad pertengahan di Barat, tekanan diletakan pada subjek, proses yang terjadi ketika seseorang mendapatkan pengalaman keindahan. Pada jaman modern, tekanan justru diletakkan pada obyek, sehingga tampak bahwa estetika dipertimbangkan sebagai dari cabang dari sains, khususnya filsafat dan psikologi.
Melihat hal tersebut, khususnya dalam hubungan dengan tulisan ini, maka pertimbangan estetika dalam pengolahan rupa setidaknya dapat didekati melalui :
a. Pemahaman karya sebagai obyek estetik.
b. Pemahaman terhadap manusia sebagai subjek yang mengamati atau menciptakan karya yang estetik.


2. SIFAT KEINDAHAN SUBJEKTIF ATAU OBJEKTIF

Dalam estetika sebagai filsafat seni, ada tiga tema yang terus debat yaitu seniman sebagai subyektivitas; karya seni sebagai obyektivitas ungkapan seniman ke publik; dan penilaian seni tidaknya dalam apresiasi maupun kritik seni.Arus sekolahan yang mendasarkan ukuran estetika dari dalam karya itu sendiri disebut intrinsik (misalnya, sastra yang diapresiasi lewat tema, alur kisah, penokohan, klimaks cerita, padahan) berusaha obyektif menilai sastra dari dalam karya sastra itu tidak berdasar senang atau tidak senang yang subyektif. Sementara, penilaian ekstrinsik(misalnya, sosiologi sastra, berarti menilai sastra dengan ukuran ilmu sosiologi yang dari luar sastra itu sendiri) hingga subyektivitas penilai, misalnya sosiolog menonjol dalam mengukur karya itu.
Sekolahan ini dihadapkan pada persoalan filsafat yang bertanya secara mendasar bagaimana subyektivitas seni bisa menjadi obyektivitas indah itu sendiri? Secara ringkas, filsafat seni berabad-abad justru karena sejarah pralogis, logis-modernis, dan posmo setiap kali harus menjawab soal karya seni yang indah (dari subyektivitas seniman maupun apresiator publik) adalah BENAR-BENAR INDAH bagi publik? Kesulitan menjawab pertanyaan ini adalah kesadaran baru yang semakin berkembang bahwa indah, benar, dan baik itu adalah hasil olah apresiasi dan konstruksi nilai tiap zaman dalam apa yang disebut sebagai konstruksi nilai budaya. Jadi, yang indah menurut konstruksi nilai kultural yang menekankan utilitas akan diukur dari manfaat karya itu. Sedang yang indah menurut konstruksi tradisi yang tidak membedakan tahap-tahap pralogis dan logis serta menaruh kehidupan itu sendiri sebagai yang selalu dirayakan dan dirawat lantaran keindahannya, maka estetika di sini diukur dari apakah ia merusak eko kehidupan atau ia merawat dan memperindah kehidupan itu sendiri.
Konstruksi nilai ukuran logis- modernis estetika dalam filsafat seni Barat memuncak dalam titik estetika sebagai ukuran harmoni antara yang asri dan yang elok; antara yang inspiratif secara budi dan yang intuitif secara rasa; yang oleh Hegel diacu pada estetika karya-karya seni klasik dan romantik dari konstruksi nilai zamannya, di mana pengheningan dan pengendapan refleksi kesadaran akal budi yang makin sadar diri menaruh spirit atau roh lebih tinggi dari yang materi. Oleh Immanuel Kant, ukuran penghubung subyektivitas dan obyektivitas estetika dalam karya seni didasarkan pada yang ia sebut sebagai sublim, yaitu capaian seniman dalam karyanya yang sudah diendapkan oleh kesadaran budi hingga formanya tertangkap sublim serta mengatasi materia atau yang fisik. Sekolahan pendasaran logis- estetis ini, mempunyai kesulitan ketika harus membawa ukuran sublim itu ke kebenaran atau truth secara filsafat. Sampai hari ini estetika tidak pernah bisa masuk dalam filsafat sistematika logis karena muatan dan kentalnya bobot subyektivitas.
Karena itu, ketika kehidupan dengan ragam dimensi dan tidak bisa hanya dipilah-pilah dalam filsafat logis sistematis serta kesewenangan menentukan ukuran keindahan berdasar logika modernitas dengan kekuasaan logosentrisme (yang logos itulah yang paling benar) direaksi dengan sekolahan postmodernisme yang tidak hanya menolak merumuskan ukuran estetika dari sublim-tidaknya, tetapi juga menolak perumusan aliran terhadap dirinya karena keindahan untuk mereka adalah perayaan masing-masing seniman terhadap kehidupan yang beragam dan penentuan estetikanya selalu in the making. Untuk keluar dalam mencari ukuran estetika karya seni pertama-tama bisa diolah lewat mengembalikan dikotomi logis dan pralogis kembali ke sebuah rentang kekayaan kehidupan yang sebelum filsafat Barat Socratian sama penghargaannya dengan realitas kekayaan kehidupan di peradaban-peradaban lain yang menyumberkan estetika pada religiositas dan festival perayaan kehidupan untuk diukur seni tidaknya. Maka tidak heran seorang Nietszche bereaksi pada konstruksi melulu budi dan sisi logis Apolonian estetika sejak Socrates untuk dikembalikan ke pasangan kembarnya, yaitu daya gairah dan ledak dahsyat kehidupan yang Dyonisian, di mana seni dan tidak seninya estetika diukur dari pathos dan kehendak untuk mendayai kehidupan dalam will to power.


3. APA UKURAN KEINDAHAN


Konsep teoritis tentang keindahan mungkin pertama kali muncul di masa Yunani kuno. Sampai Abad Pertengahan ada beberapa persamaan dalam ukuran keindahan mereka. Yang indah itu haruslah:

  1. Seimbang, teratur, proposional: Plato, Phytagoras, Thomas Aquinas.


  2. Dapat dijadikan sarana untuk membawa penikmatnya menuju kontemplasi, melepaskan diri dari keterkungkungan subjek, untuk mencapai keindahan yang ada ‘di seberang sana’: Plato, Plotinus, Agustinus.


  3. Menentramkan jiwa, mengingatkan pada logos, keteraturan dan simetri: Stoa/Epikurus.


  4. Sesuatu yang terjadi dalam diri si subjek pada pengalamannya berinteraksi dengan objek keindahan: Aristoteles, Thomas Aquinas.



Kita dapat juga mengukur keindahan melalui beberapa argument dari berbagai peristiwa yang pernah kita saksikan, kita simak, atau bahkan hingga kita amati. Suatu masalah yaitu, lekak-lekuk tubuh pria atau wanita memiliki nilai estetis amat indah sebagai seni teologis. Tuhan menyukai keindahan dengan maha karya indah-Nya. Tapi, apakah orang bisa bebas mengekspresikan keindahan tubuh dan hasrat seksualnya ke ruang publik?
Manusia cenderung munafik ketika harus memilih hasrat pribadi atau kepentingan publik. Gejala itu bisa dilihat dari tingginya rating tayangan erotis di berbagai stasiun televisi, koran, atau majalah. Erotisme dikecam sekaligus dinikmati. Sensualitas erotis sebatas komodifikasi bagian-bagian tubuh yang membangkitkan birahi seksual bagi kerakusan kekayaan dan popularitas (kapitalisasi) tanpa kaitan mutu peradaban. Ketertarikan seksual pria-wanita berkait apresiasi keindahaan tubuh yang berfungsi bagi kelangsungan sejarah. Tapi, apakah memamerkan keindahan tubuh yang erotis atau melampiaskan hasrat seksual itu bebas dilakukan di ruang publik? Argumen bahwa hal itu merupakan privasi subjektif atas nama estetika, tidaklah relevan ketika dipertontonkan di ruang publik.
Hidup sosial memerlukan sejumlah batasan antara apa yang termasuk ruang publik dan privasi. Semua orang memiliki apresiasi seni dan keindahan, tapi orang bisa berdebat tentang apa yang disebut indah atau estetis dan erotis. Hasrat seksual merupakan bakat bawaan manusia, juga hewan. Tapi hasrat seksual tidak bisa dilampiaskan di sembarang waktu dan tempat.
Bagi pelaku, hubungan intim hingga orgasme merupakan sesuatu yang indah dan bernilai spiritual tinggi, tapi menjijikkan jika dipertontonkan ke ruang publik. Alih-alih mengapai spiritualitas, sebaliknya justru mendegradasi martabat kemanusiaan. Pornografi dan pornoaksi adalah wilayah publik yang bergantung pada apresiasi banyak orang sebagai pengguna, tapi juga berhubungan dengan konsep martabat kemanusiaan. Ada dimensi kecerdasan di dalam ekspresi seni, estetika, sensualitas dan erotisme yang membedakan manusia dari binatang.
Mereka lupa banyak pihak beragumen hanya Tuhan yang berhak menilai apakah tindakannya tergolong erotis atau saleh sehingga orang lain tidak berhak menilai. Mereka lupa bahwa Tuhan menurunkan wahyu dan mengutus nabi dan rasul-Nya sebagai pedoman menilai. Referensi tindakan juga bisa dicari dari tradisi yang tersusun dari pengalaman universal manusia tanpa bimbingan wahyu. Di sini pertanyaan tentang apa tujuan tindakan erotis atau maksiat dalam praktik seni dan estetika itu selalu penting diajukan.
Orang bertanya tentang efek negatif seni erotis dan siapa penanggung jawab moral bangsa. Bagaimana pun tindakan maksiat dan erotis atau sebaliknya di ruang publik menyumbang perkembangan moral bangsa tersebut. Soalnya, apa ukuran keindahan seni, erotisme dan kemaksiatan, atau kesalehan? Di sini ada sejumlah nilai otentik universal dari semua agama dan peradaban seperti judi, selingkuh, hubungan intim tanpa ikatan perkawinan dan erotisme. Masyarakat dan bangsa memiliki tujuan-tujuan ideal tentang kehidupan manusia dan peradabannya.
Senang atau benci kepada sesuatu bukan ukuran indah atau tidak indah, baik atau benar, tapi berkaitan dengan mutu kehidupan manusia. Jumlah orang yang menyukai judi atau hubungan seksual tanpa ikatan perkawinan, bukan ukuran judi atau hubungan intim itu boleh dilakukan. Pengalaman bangsa-bangsa berkemajuan dan sejarah adalah guru terbaik jika bangsa ini ingin meraih kehidupan yang lebih bermartabat.


4. FUNGSI KEINDAHAN DALAM KEHIDUPAN




Dalam kehidupan sehari hari, hal yang luar biasa adalah refreshmen yang didasarkan pada kontras. Panas dan dingin, malam dan siang, bayang dan kilap, air dan api, gunung dan lembah, kerja dan bermain adalah konsep dan fenomena penting tanpa dimana kehidupan kita akan menjadi lebih menyedihkan kebutuhan yang sama akan rangsangan, umumnya terdapat didalam Desain. Manusia menikmati keindahan berarti manusia mempunyai pengalaman keindahan. Pengalaman keindahan biasanya bersifat terihat(visual) atau terdengar (auditiry). Walaupun tidak terbatas pada dua bidang tersebut keindahan tersebut pada dasarnya adalah alamiah. Alam itu diciptakan oleh Tuhan, alamiah itu adalah wajar tidak berlebihan dan tidak kurang. Orang menciptakan itu pada dasarnya mencontoh keindahan yang di anugrahkan Tuhan kepada umatnya. Namun demikian orang yang mencontoh keindahan alam belum tentu menghasilkan keindahan.
Pada tahun 1750, Alexander Gottlieb Baumgarten melihat adanya syarat syarat tertentu dalam menafsirkan pekerjaan-pekerjaan Seni. Ia ingin mengetahui secara pasti mengapa seseorang dapat mengalami keindahan dan sanggup mengapresiasi pekerjaan Seni. Selanjutnya ia melakukan penelitian psikoogi Seni. Baumgarten tidak menggunakan lagi kata keindahan melainkan mengambil istilah "estetika" dari bahasa Yunani 'aisthekos', yang dihubungkan dengan persepsi.


5. HUBUNGAN KEINDAHAN DENGAN KEBENARAN


Dalam merumuskan dan mendeskripsikan konsep keindahan yang benar dan kontekstual (yaitu mampu mengarahkan zaman kembali kepada kebenaran Tuhan), kita harus mampu menggali keluar kebenaran yang sudah diwahyukan Allah lewat sejarah keselamatan dan Alkitab, lalu melakukan kontekstualisasi terhadap perkembangan konsep keindahan yang sudah terjadi sepanjang abad. Pertama-tama kita akan membahas perkembangan konsep keindahan yang ada. Ini perlu untuk dapat memahami pergumulan hati manusia sepanjang zaman tentang konsep keindahan ini. Tentu saja kita memahami hal ini dalam kerangka pikir adanya general revelation dan ‘sisa kebaikan’ pada hidup manusia.
Konsep keindahan itu sendiri sangat abstrak ia identik degan kebenaran. Batas keindahan akan berhenti pada sesuatu yang indah dan bukan pada keindahan itu sendiri. Orang yang mempunyai konsep keindahan adalah orang yang mampu berimajinasi, rajin dan kreatif dalam menghubungkan sesuatu benda dengan benda lain sebagai objek imajinasi. Demikian pula kata indah diterapkan untuk persatuan orang-orang yang beriman, para nabi, orang-orang yang menghargai kebenaran dalam agama, kata dan perbuatan serta orang-orang yang saleh merupakan persahabatan yang paling indah. jadi keindahan mempunyai dimensi interaksi yang sangat luas baik hubungan manusia dengan benda, manusia dengan manusia, manusia dengan Tuhan, dan bagi orang itu sendiri yang melakukan interaksi.


Demikian penelusuran data yang saya cari untuk menjabarkan tentang keindahan. Silakan menggeluarkan pendapat dan komentari. Terimakasih.




Referensi :
Bromiley, Geoffrey W. ed., International StAndard Bible Encyclopedia Vol.1
(Michigan: Eerdmans, 1979).




Sutrisno, FX. Mudji & Prof. Dr. Christ Verhaak, S. J., Estetika Filsafat Keindahan
(Yogyakarta: Kanisius, 1993).


OBSERVASI: BAGIAN DARI KEMISKINAN


Apakah anda tahu apa yang dilakukan oleh seseorang ketika ia tidak memiliki pekerjaan? Pasti mereka yang tidak mempunyai pekerjaan akan melakukan berbagai cara untuk mendapatkan pekerjaan. Misalnya mereka dapat berwirausaha membuka lapangan pekerjaan baru, mereka yang punya keahlian bisa melatih keahliannya dan mengembangkannya menjadi suatu pekerjaannya yang menjanjikan. Tetapi bagaimana dengan mereka yang tidak memiki modal dan memiliki keahlian? Anda pastinya tau apa yang sering mereka lakukan, mengemis, mengamen, dan masih banyak lagi . Mereka akan mengerjakan pekerjaan apapun selagi mereka mendapatkan uang yang halal. Tetapi apakah anda tau apa yang mereka rasakan, yang mereka pikirkan dan bagaimana mereka mengatur hidupnya? Untuk mengetahuinya kami melakukan observasi ke jalan.

Sampel yang di gunakan dalam observasi terhadap penyebab atau alasan para pemulung dan pengamen menjalankan profesinya adalah ibu-ibu, bapak-bapak, dan para anak-anak. Pengambilan sampel kami lakukan secara natural tanpa ada rekayasa, mengapa kami katakan secara natural? Karena kami melakukan wawancara secara langsung kepada sampel di tempat mereka melakukan profesinya. Hal ini dilakukan karena dengan melakukan observasi ke lokasi kami dapat mengetahui dan melihat bagaimana cara mereka bekerja.

Kami bertemu dengan anak laki- laki yang sedang memulung di pinggir jalan ruko di Galaxi. Anak itu bernama Marwan (11), dengan membawa karung (untuk mengumpulkan barang bekas) ia pun menuju tempat kami singgah dan ia bersedia kami wawancara. Dengan kasat mata mungkin semua orang menilai bahwa “pemulung” tidak bersekolah dan ada yang menilai mereka memulung karena malas mencari pekerjaan yang lebih layak. Tetapi tidak untuk Marwan anak ke 1 dari 2 bersaudara ini, ia bekerja untuk membayar uang sekolahnya sendiri karena ayahnya juga berprofesi sebagai pemulung dan ibunya dirumah bersama adiknya yang masih kecil. Sama halnya saat kami mewawancara 2 anak bersaudara Rossa (12) dan Hassan (9 ) mereka bekerja untuk biaya sekolah. “aku ngumpulin barang- barang selama 1 bulan trus di gabung sama barang- barang yang di kumpulin bapak, trus bapak yang nukerin ke tengkulak. Kira- kira dapet uang Rp. 50.000” jelas Marwan. Sudah bisa di bayangkan mereka bekerja setiap hari dari pagi sampai malam berkeliling dari jalan ke jalan mencari barang-barang bekas untuk menunggu uang Rp. 50.000 bulan. Jika mereka memiliki keahlian atau pun kemauan lebih mereka bisa mendapatkan sesuatu yang sama dengan orang yang kerja di kantoran atau yang berwirausaha, menunggu hasil kerja pada akhir bulan dan jumlah penghasilan lebih besar.

Mayoritas anak yang memulung seperti mereka lebih menghargai apa yang mereka perjuangkan, dan saat kami tanya apa cita- cita mereka menjawab dengan semangat “aku mau jadi polisi ka” kata Marwan dan Rossa “aku mau jadi guru”. Rasa kagum pada mereka saat kami bertanya bagaimana mengatur waktu antara pekerjaan rumah (PR) dengan bekerja dan bagaimana prestasi di kelas, “kalo saya ngerjain PR malem- malem atau gak kalo PR-nya gampang saya kerjain langsung di sekolah biar pulang sekolah langsung kerja, kalo rengking kemaren dapet rangking 2 ka” ucap Rossa.

Walau sekolah sambil mencari uang mereka tidak meninggalkan tugasnya sebagai siswa/i. Lain halnya saat kami bertemu 2 pengamen yang bisa di katakan beranjak menjadi seorang remaja bernama Rammi (12) dan Rudi (12) mereka terakhir sekolah saat masih duduk di kelas 4 SD. Anak ini mulai mengamen dari Villa Pekayon dan kami bertemu di depan komplek Kemang Pratama. Demi uang Rp.30.000/hari mereka mengikhlaskan putus sekolah, dan saat kami tanya apa ini keputusan kalian? Mereka menjawab “ia ka, abis kalo gak ngamen makan pake apa? Uang-nya juga di kasihin ke ibu, kan ibu jualan sayur ya itung-itung bantu ibu” ujar Rudi. Mereka mengaku senang mengamen dan yang paling memprihatinkan mereka tidak ada keinginan tuk kembali bersekolah karena merasa sudah bisa mencari uang sendiri walau hasilnya tidak sama bila mereka sekolah hingga tamat minimal lulus SMA. Bahkan saat di tanya apa cita- citanya mereka menjawab hampir bersamaan “apa ya!” dan kami memberikan gambaran “kalian bisa main alat musik kepikiran gak jadi artis kaya artis- artis?” mereka hanya senyum kecil seakan- akan mereka tidak memiliki gambaran hidup di masa depan. Padahal jika mereka memiliki keinginan untuk sukses contohnya mereka ingin menjadi pemain band seperti yang mereka lihat banyak pemain band yang memulainya kariernya dari mengamen, tetapi sayang mereka tidak punya gambaran tentang apa yang akan mereka lakukan setelah mengemen. Apakah mereka akan mengemen terus sampai tua? Apakah mereka mendapat nasihat atau cerita orang tua tentang masa depan atau kehidupannya kelak?

Orang tua mereka sesungguhnya menginginkan anak- anaknya sekolah setinggi- tingginya, tapi apa boleh buat walau banyak orang yang mengatakan “udah nasib hidup seperti ini jadi harus terima”. Sesungguhnya jika mereka mempunyai usaha atau kemauan untuk menjadi lebih baik pastinya banyak jalan menjadi orang yang berhasil atau lebih baik. Karena Tuhan hanya memberikan kesempatan hidup, akal pikiran, rezeki, dan masih banyak lagi yang Tuhan berikan kepada umatnya tetapi satu hal yang dapat di ubah oleh manusia yaitu bagaimana manusia itu sendiri dapat menghormati, menikmati, dan mensyukuri apa yang telah di karuniakan kepadanya dengan cara membuat sesuatu di dalam hidupnya menjadi berarti.

Seperti Pak Tamad (81), kami bertemu di salah satu perumahan Pekayon. Belliau sedang mengambil barang-barang yang sudah tidak di pakai, lebih tepatnya sampah. Kakek tua yang sudah rentan dan pendengarannya sudah memburuk sedang menarik gerobaknya, dengan semangat dan memiliki banyak harapan kehidupannya dapat berubah. Dan kami sangat beruntung dapat bertemu dengan Pak Tamad, tanpa di sangka sebelum menjalani profesi sebagai pemulung ternyata Pak Tamad adalah “seorang pejuang '45” hal ini dapat di buktikan saat Pak Tamad memperlihatkan kartu anggotanya saat menjabat. Sangat memprihatinkan, di masa tua sesorang yang telah memperjuangkan Negeri kita berakhir menjadi pemulung. “yah neng dari pemerintah cuma dapet Rp.300.000,-/ bulan, 100rb buat sewa rumah, belom buat anak, belom lagi kalo cucu lagi maen kerumah minta jajan” ucap Pak Tamad.

Secara naluri kami sebagai seorang anak meresa sangat sedih mengapa anak mereka tidak membantu orang tuanya yang sudah rentan, bahkan tutur pak Tamad anaknya masih sering merengek minta sesuatu contohnya anak yang paling muda berumur 35 tahun meminta orang tuanya tuk membelikan motor untuk dirinya. Untuk memberikan kesenangan kepada seorang anak seorang ayah akan melakukan apapun demikian dengan Pak Tamad, beliau ikhlas menjual tanah yang ia miliki hasil dari jerih payah-nya saat masih menjadi pejuang di zaman perang. Dan dengan suara yang sedikit melemah Pak Tamad berkata “gimana ya neng anak tu titipan tuhan jd apa yang di titipkan harus di kembalikan dan harus di pertanggung jawabkan nantinya, makanya bapak ikhlas kerja kaya gini. Nanti neng kalo udah jadi ibu juga bakal memberikan yang terbaik untuk anaknya.”. Mungkin pepatah yang berbunyi “kasih ibu sepanjang zaman, kasih anak sepanjang jalan”.

Banyak hal yang bisa ambil nilai yang terbaik dari kehidupan orang lain. Rasa malu, minder dan lain- lain pasti mereka temukan atau rasakan dalam perjalanan hidupnya. Tapi apa boleh buat, jalan itu yang dapat mereka lakukan berprofesi sebagai pengamen dan pemulung. Bagi mereka selagi uang itu halal dan bisa mendapatkan makan mereka sudah sangat bersyukur atas apa yang sudah mereka dapat. Karena dengan bersyukur atas apa yang telah mereka dapat adalah satu cara mendekatkan diri pada tuhan dan selalu berusaha merubah hidup menjadi lebih baik.

Dengan segala harapan mereka ingin selalu di hargai banyak orang, terkadang banyak bantuan pemerintah yang amat banyak di gembar gemborkan tetapi mereka tidak pernah mendapatkannya. Seperti ibu Naimah, ibu dari 4 anak ini tidak pernah mendapatkan BLT di desanya. “saya gak dapet BLT walaupun nama saya udah kedaftar di kampung saya. Waktu pulang kampung saya minta sama pak RT bareng sama warga yang lain sampe pada marah- marah tetep aja gak di kasih. Tapi saya menyesalkan atas sikap pemerintah yang tidak memperhatikan rakyat kecil. Mereka malah memperhatikan orang- orang yang punya tanah berhektar- hektar dan punya motor yang banyak”. Ibu Naimah mempunyai harapan untuk membuka usaha sendiri seperti membuka warung yang ingin dia kelola sendiri. Tetapi karena kesulitan ekonomi kesempatan itu tidak berpihak padanya. Seandainya Ibu Naimah di berikan modal untuk membuka usaha, ibu Naimah memillih membuka warung kebutuhan rumah tangga dan merubah nasib hidupnya yang seperti ini menjadi lebih baik.

Sedangkan dalam kehidupan sosialnya tidak jauh beda dengan apa yang kita kerjakan sehari- hari. Mereka sering berkumpul antar tetangga dan mereka saling membantu antar sesama, “ kalo sama tetangga mah biasa aj, kan dilingkungan rumah kerjaannya sama kalo g mulung, ngamen”, ujar bu Naimah. Yang membuat kita dengan mereka berbeda hanya lah gaya hidupnya saja, mereka bekerja setiap hari jika mereka tidak sedang tidak ingin mereka bisa hanya berdiam diri di rumah tetepi berbeda dengan bapak ibu kita, mereka harus bekerja setiah hari sesuai jadwal. Tetapi dalam kehidupan yang layak semua yang dilakukan masih dalam batas wajar. Mereka bersosialisasi dan bertetengga.


Demikian observasi yang saya lakukan bersama teman satu kelompok dengan saya. Tidak ada maksud menyindir atau menyinggung Silakan menggeluarkan pendapat dan komentari. Terimakasih.


SOSIAL IMAGE


Banyak cara yang digunakan seseorang untuk mempresentasikan dirinya dan menciptakan image sosial tentang dirinya kepada orang lain. Motif utama didalam hubungan sosial adalah untuk menjaga kesan tampak baik bagi orang lain, melalui strategi diantaranya “self promotion” dan “self image”. Self promotion adalah usaha yang dilakukan seseorang agar orang lain menilai dirinya secara positif. Self image adalah usaha yang dilakukan seseorang untuk menunjukkan penggambaran dirinya kepada orang lain agar dapat menarik kesimpulan. 
 
Dengan beberapa pengertian yang dipaparkan di atas anda dapat menyimpulkan bahwa kesan yang ditimbulkan dapat sedikit dimanipulasi. Seperti dari cara berpakaian dan tutur kata yang baik dari seseorang. Banyak orang yang menilai perilaku atau tampilan seseorang dapat diukur secara objektif atau dinilai sedcara kasat mata. Karena perilaku atau tampilan itu sendiri lebih mudah untuk dilihat sedangkan jiwa tidak dapat dilihat.

Manipulasi perilaku dengan pakaian sangat mudah dilakukan, terutama untuk menarik perhatian lawan jenis. Contoh pada perempuan:
  1. karakteristik seorang perempuan yang feminim untuk menarik perhatjian adalah dengan make up dan pakaian yang seksi atau mahal. Mereka ingin menonjolkan diri mereka sebagai seseorang yang menarik dan percaya diri. Tanpa di sadari tidak semua lawan jenis menyukai hal itu.


  2. Sedangkan perempuan yang tomboi identik dengan kaos, celana dan segala hal yang sering digunakan laki-laki. Banyak orang yang salah menilai pandangan dari 2 sifat perempuan, tetapi tidak sedikit laki-laki yang menyukai perempuan tomboi karena kesederhanaannya yang membuat para laki- laki lebih nyaman.

Contoh pada lai- laki:
  1. Menggunakan barang mahal. Mungkin banyak yang setuju dengan pendapat saya. Bahwa banyak laki-laki sering menilai perempuan sebagai seseorang yang lebih mementingkan harta, atau lebih sering di sebut “Matre”. Jadi mereka menganggap dengan berpakaian serba mahal maka para perempuan tertarik. Akan tetapi tidak semua seperti itu.

  2. Membentuk tubuh. Para pria melakukan olah raga bukan hanya untuk berolah raga dan kebugaran saja. Kebanyakan dari mereka berolah raga untuk membentuk tubuh dan menjadikan sebagai daya tarik mereka. Mungkin anda sependapat dengan saya, laki- laki pertubuh atletis itu seksi. Hal ini saya buktikan saat menonton film Ninja assassin, saat “Rain” membuka pakaian dan memperlihatkan bentuk tubuhnya para wanita langsung menjerit histeris.


Hal yang anda nilai positif dari seseorang dapat dipengaruhi oleh pikiran, perasaan, keyakinan dan sikap. Walaupun anda menilai “seorang wanita itu cantik” tetapi dalam bertutur kata dan perilaku kurang baik pastinya persepsi anda langsung berubah. Jadi, dari perilaku seseorang ada yang lebih penting yaitu Menner. Bahkan saat ini sudah ada sekolah kepribadian, mungkin bagi banyak orang perilaku kepribadian yang baik kurang penting dan bagi mereka yang penting adalah penampilan. Menurut saya itu salah besar dan terkadang penampilan ataupun tutur kata tidak mewakili dirinya.

Saya pernah melakukan penilaian kepada teman saya. Namanya Robby, ia teman sewaktu saya SMA. Awal bertemu ia sangat cuek dan tidak banyak bergaul, karena saya penasaran dengan Robby. Maka saya berteman lebih jauh dengan-nya. Tanpa saya kira sebelumnya, ternyata Robby adalah drumer dari band yang dibentuknya, ia pemain futsal disekolah, dan ia masih memiliki banyak kemampuan. Banyak hal yang saya dapat setelah bermain dengan Robby, walau dari penampilan dan cara bicaranya bisa dikatakan “anak selengean” tetapi ia memiliki rasa persahabatan yang tinggi. Robby juga memberikan banyak teman dari teman bermain futsalnya yang baik walau mayoritaslaki- laki. Dia saya anggap sebagai kakak pada saat itu.
Sayangnya saat ini kami tidak pernah berkomunikasi, karena saya kuliah dan ia bekerja. Kami berkomunikasi melalui dunia maya dan itupun tidak rutin.

Demikian penjabaran tentang Sosial Image yang saya ambil kesimpulan dari materi psikologi sosial. Silakan menggeluarkan pendapat dan komentari. Terimakasih.

Jumat, 18 Desember 2009

POSTURE IS YOUR FASHION


            Bagi banyak orang penampilan adalah modal utama untuk mendapatkan apa yang diinginkan. Penampilan bukan hanya pakaian saja, melainkan posture tubuh sangat dipertimbangkan terutama bagi para perempuan. Banyak wanita menginginkan bentuk tubuh yang ideal. Tubuh tinggi, langsing, warna kulit putih, rambut indah adalah merupakan impian para perempuan. Cara mengetahui apakah tubuh anda ideal (proposional) atau tidaknya bisa dilakukan perhitungan:
TINGGI BADAN-110= …....., Maka hasilnya berat badan.

            Sebagai perempuan saya juga sangat mengidamkan tubuh yang ideal. Tinggi saya 157, jika melakukan perhitungan agar mengetahui apakah tubuh saya ideal adalah 157-110= 47. Sedangkan berat badan saya hanya 41 kg, jadi jika saya mendapatkan tubuh yang ideal harus menambahkan berat badan 6 kg lagi. Seperti yang anda ketahui untuk seseorang, 41 kg termasuk ukuran yang amat kecil. Menurut banyak orang saya “cungkring atau kurus” karena tubuh saya yang kecil.
            Menurut orang lain saya nyaman dengan bentuk tubuh saya, tetapi saya merasa minder saat berjalan dengan orang yang lebih tinggi atau orang yang lebih gemuk dari saya. Dengan kekurangan yang saya miliki dapat saya jadikan kelebihan dengan cara memanipulasi pakaian. Menurut saya jika orang yang bertubuh kecil seperti saya menggunakan celana/ pakaian yang “gombrong” akan semakin terlihat kecil, jadi saya senang menggunakan celana pada bagian bawahnya lebih kecil dan ada street. Pada pakaian menggunakan kaos oblong yang pas dengan badan saya.
            Saat menghadiri acara resmi, saya menggunakan tambahan high heels yang lebih dari 3 cm agar tubuh saya terlihat lebih jenjang. Di padupadankan dengan pakaian yang lebih feminim seperti dress atau kaos dengan tambahan aksesoris agar terlihat lebih menarik dan feminin. Untuk memanipulasi warna kulit memang aga sulit, memanipulasinya biasanya saya dengan cara menggunakan pakaian yang tidak membuat warna kulit saya semakin gelap. Untuk warna kulit, saya tidak terlalu mengambil pusing untuk memanipulasinya karena sulit di ubah.
            Untuk rambut sendiri, saya tidak terlalu ambil pusing. Karena rambut saya sebahu jadi untuk saat- saat santai seperti ke kampus hanya menguncirnya saja, dengan penyesuaian kaos biasa tetapi saya juga sering menggunakan pakaian yang menutupi pinggul, celana panjang, sepatu kets, yang tidak pernah ketinggalan adalah tas kecil dan tata rambut yang sederhana dikuncir atau digerai. Saya kurang tertarik menggunakan aksesoris seperti bando apalagi yang berwarna- warni karena akan lebih menonjolkan warna kilit pada wajah yang lebih hitam.

            Demikian penjabaran tentang manipulasi penampilan yang saya lakukan. Silakan menggeluarkan pendapat dan komentari. Terimakasih.

Minggu, 22 November 2009

Sopan Santun Menurut Saya


            Norma sopan-santun adalah peraturan hidup yang timbul dari hasil pergaulan sekelompok manusia di dalam masyarakat dan dianggap sebagai tuntunan pergaulan sehari-hari masyarakat itu. Norma kesopanan bersifat relatif, artinya apa yang dianggap sebagai norma kesopanan berbeda-beda di berbagai tempat, lingkungan, atau waktu.

Contoh-contoh norma kesopanan ialah:
  1. Kepada Diri Sendiri

            Sebelum menghormati orang lain sebaiknya menghormati diri sendiri. Seperti bagaimana anda cara berpakaian sesuai dengan tuntutan, berfikir yang positif, cara makan dan minum yang baik. Masih banyak lagi hal-hal kecil yang perlu diperhatikan

  1. Menghormati Orang Lain/ Keluarga

            Jika anda sudah merasa sopan terhadap diri anda, maka tentu saja anda dapat menerapkannya kepada orang lain. Sopan santun kepada orang lain sangat penting, karena banyak orang menilai seseorang dari tingkah lakunya. Sopan santun dimulai dari keluarga, dari kecil orang tua memberikan pembelajaran sederhana tentang sopan santun. Seperti menghormati orang yang lebih tua, salaman atau mencium tangan kepada orang yang lebih tua, merundukkan badan saat melewati kerumunan, menerima sesuatu selalu dengan tangan kanan, bertamu ke rumah orang lain sesuai dengan jam berkunjung yang sekiranya tidak mengganggu tuan rumah, dan lain-lalin.
            Dengan keluarga pun seperti itu. Sopan santun terhadap keluarga tentunya tidak berbeda dengan kepada orang lain. Misalnya, sesama penghuni rumah tidak saling mengganggu privasi dari masing-masing anggota keluarga tanpa mengurangi rasa saling memberikan perhatian satu sama lain.

  1. Lingkungan

            Saat berada di lingkungan sosial seperti sekolah, kampus, atau kantor. Pastinya anda akan tetap menjaga tingkah laku anda agar terlihat baik. Sopan santun bukan hanya di hadapan orang lain saja, di jalan, kepada lingkungan pun juga dapat dikatakan sopan. Seperti saat mengendari kendaraan anda harus menghormati pengendara lain, dengan menggunakan helm dan menaati aturan mengendara dijalan maka anda sudah sopan dalam berkendara. Contoh saat anda berada di lingkungan seperti, membuang sampah pada tempatnya, tidak meludah di sembarang tempat & menghormati orang lain karena bukan anda saja yang menikmati fasilitas umum.

  1. Yang lain-lain

            Masih banyak lagi hal-hal yang dianggap sepele oleh orang lain tetapi sangat penting dalam sopan santun atau menghormati orang lain. Seperti tidak berkata-kata kotor, kasar, dan sombong. Mungkin tanpa disadari seseorang sering berkata kasar yang bertujuan hanya bergurau, tetapi sebaiknya berhati-hati dalam bertutur kata karena tidak semua orang dapat menerima lelucon yang kasar.
            Sombong adalah hal yang paling sering dijumpai. Terkadang saat seseorang sedang bercerita tentang kisahnya sering menyudutkan orang lain yang ujung pada kesombongan. Meskipun demikian sopan santun terhadap oranng lain terkadang sering dianggap “over”, padahal jika seseorang mengerti tentang etika mereka akan menjaga tingkah lakunya.

            Dari yang saya uraikan tentang sopan santun di atas, tidak ada sanksi yang spesifik bagi seseorang yang tidak bersikap sopan santun terhadap orang lain. Tetapi yang didapat adalah pandangan masyarakat yang bernilai negatif, seperti dicemooh, celaan, hinaan, atau hujatan, ataupun dikucilkan dan diasingkan dari pergaulan serta dipermalukan.    Demikian penjabaran tentang sopan santun menurut saya. Jika ada yang ingin menembahkan, silakan comment. Terimakasih.