Jumat, 25 Maret 2011

KEPADATAN DAN KESESAKAN PADA LINGKUNGAN



Menurut Sudstrom, kepadatan adalah sejumlah manusia dalam unit ruang (dalam Wrightsman & Deaux, 1981). Atau sejumlah manusia berada di suatu  ruang atau wilayah tertentu dan lebih bersifat fisik (Holahan.dkk, 1978). Keadaan dikatakan semakin padat bila jumlah manusia pada suatu batas ruang tertentu semakin banyak dibandingkan dengan luas rungnya. Pembicaraan kepadatan tidak akan terlepas dari masalah kesesakan. Kesesakan adalah merupakan persepsi individu terhadap keterbatasan ruang sehingga lebih bersifat psikis (Gifford.dkk, 1978). Kesesakan terjadi bila mekanisme privasi individu gagal berfungsi dengan baik karena individu atau kelompok terlalu banyak berinteraksi dengan yang lain tanpa diinginkan individu tersebut (Altman, 1975).
Altman.dkk berpendapat, antara kepadatan dan kesesakan memiliki hubungan yang erat karena kepadatan merupakan salah satu syarat yang dapat menimbulkan kesesakan, tetapi bukan satu-satunya syarat yang dapat menimbulkan kesesakan. Sedangkan, kepadatan yang tinggi dapat mengakibatkan kesesakan pada individu. Kesesakan (crowding) dan kepadatan (densitiy) merupakan fenomena yang akan menimbulkan permasalahan bagi setiap negara di dunia di masa yang akan datang. Hal ini dikarenakan terbatasnya luas bumi dan potensi sumber daya alam yang dapat memenuhi kebutuhan hidup manusia, sementara perkembangan jumlah manusia didunia tidak terbatas.
Menurut Jain (1987) tingkat kepadatan penduduk akan dipengaruhi oleh unsur-unsur yaitu jumlah individu pada setiap ruang, jumlah pada setiap unit tempat tinggal, jumlah unit tempat tinggal pada setiap struktur hunian dan jumlah struktur hunian pada setiap wilayah pemukiman. Hal ini berarti bahwa setiap pemukiman memiliki tingkat kepadatan yang berbeda tergantung pada kontribusi unsur-unsur tersebut. Taylor (dalam Gifford, 1982) menyatakan bahwa lingkungan sekitar dapat merupakan sumber yang penting dalam mempengaruhi sikap, perilaku dan keadaan internal seseorang disuatu tempat tinggal. Oleh karena itu individu yang bermukiman dengan kepadatan yang berbeda mungkin menunjukkan sikap dan perilaku yang berbeda pula.
Morris (dalam Iskandar, 1990) memberi pengertian kesesakan sebagai defisit suatu ruang. Hal ini menunjukkan bahwa dengan adanya sejumlah orang dalam suatu hunian rumah, maka ukuran permeter persegi setiap orangnya menjadi kecil, sehingga dirasakan adanya kekurangan ruang. Dalam suatu unit hunian, kepadatan ruang harus diperhitungkan dengan mabel dan peralatan yang diperlukan suatu ukuran standar ruang yang berbeda, karena fungsi dari ruang itu berbeda. Besar kecil ukuran rumah menentukan besar rasio antara penghuni dan tempat (space) yang tersedia. Makin besar ruang dan makin sedikit penghuninya, maka akan semakin besar rasio tersebut. Sebaliknya, makin kecil dan semakin banyak penghuninya, maka akan semakin kecil rasio tersebut, sehingga akan timbul perasaan sesak (crowding) (Ancok, 1989).
Berdasarkan penjelasan di atas. Kepadatan dan kesesakan sering kali berdampak pada kehidupan individu. Sebagai contonya kondisi kota Jakarta, semakin banyak penduduk semakin padat dan sesak suasana kota. Setiap pagi kota Jakarta selalu menjadi langganan kemacetan semakin hari semakin padat, karena semakin banyak masyarakat yang memiliki tuntutan untuk bekerja dan memiliki kendaraan padahal fasilitas angkutan umum telah disediakan seperti Bus Way. Namun kepadatan pun yang memaksa masyarakat harus memiliki kendaraan pribadi karena terkadang tidak jauh berbeda kepadatan diangkutan dengan dijalan bila menggunakan fasilitas umum.
Program KB (keluarga berencana) pun agaknya tidak berjalan efektif seperti yang telah dicanangkan pemerintah. Akibatnya, jumlah penduduk setiap harinya bertambah dengan cepat dan kebutuhan masyarakat semakin tingggi. Kepadatan dan kesesakan dapat dilihat di kehidupan sehari-hari pada lingkungan hunian keluarga. Pada satu keluarga terdapat anggota keluarga yaitu ayah, ibu, 4 orang anak, nenek dan kakek. Setiap anggota keluarga tentunya memiliki kebutuhan masing-masing sedangkan keadaan rumah tidak terlalu luas maka akan menimbulkan kesan padat dan kemudian para penghuni merasa sesak karena isi dari rumah tersebut merupakan kebutuhan dari masing-masing individu yang tinggal pada rumah itu.
Ketika indivudu merasa penat atau bosan akan situasi yang telalu padat kemungkinan  individu tersebut merasa stress yang diakibatkan kesesakan yang ia lihat pada lingkungan sekitar hunian. Bahkan sering kali suasana yang padat dapat menimbulkan kerusakan pada lingkungan sekitar, seperti membangun bangunan yang sebelumnya di tanami bunga-bunga bahkan kebun kecil. Hal tersebut merupakan satlah satu kerusakan lingkungan akibat kepadatan dan kesesakan.
Demikian tulisan mengenai kepadatan dan kesesakan dan di sertai gambaran para lingkungan sekitar.

Sumber :e-learning.gunadarma.ac.id






















desktop wallpaper, search engine optimization























desktop wallpaper, search engine optimization
























games free download, search engine optimization























free wallpapers, search engine optimization























webdesign, search engine optimization